Bank Sentral Korea (BOK) mengisyaratkan arah kebijakan untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Mei lalu.
Hal ini didorong oleh menguatnya risiko inflasi yang dinilai mulai melebihi biaya kebijakan ketat.
>>> Permintaan Obligasi Yuan China Perparah Krisis Likuiditas Hong Kong
Catatan rapat yang dirilis menunjukkan perdebatan di antara anggota dewan BOK kini bergeser pada penentuan waktu penaikan biaya pinjaman.
Kebijakan pengetatan tersebut didorong oleh meningkatnya risiko stabilitas keuangan serta tekanan inflasi.
Dua anggota dewan menyerukan opsi penaikan langsung sebesar 25 poin persentase. Dokumen tersebut memperjelas sikap tegas pimpinan bank sentral setelah keputusan suku bunga pada akhir Mei lalu.
Gubernur BOK Shin Hyun Song menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi, inflasi, serta stabilitas keuangan menunjukkan indikator yang sejalan untuk segera mengambil langkah pengetatan.
Hal ini disampaikan dalam pidato peringatan ulang tahun bank sentral pada pekan sebelumnya.
Pergeseran lanskap kebijakan moneter terjadi secara dramatis sejak pecahnya konflik bersenjata di Iran yang memengaruhi pasokan minyak mentah dunia.
>>> Asosiasi Pedagang Tolak Rencana Kemasan Rokok Polos Kemenkes
Meskipun Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai untuk membuka kembali Selat Hormuz, BOK diproyeksikan tetap bergabung dengan bank sentral global lainnya dalam menerapkan pengetatan moneter.
Sebelumnya, Bank Sentral Jepang (BOJ) juga memberikan suara untuk menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 1995.
Alasan serupa mengenai risiko inflasi yang berpotensi melampaui target 2% menjadi dasar kebijakan tersebut.
Pada pertemuan 28 Mei, BOK memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,5% melalui pemungutan suara yang terpecah.
Meski demikian, proyeksi plot titik enam bulan menunjukkan adanya potensi kenaikan biaya pinjaman ke depan.
Bank sentral turut menaikkan perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi berkat sokongan kuat dari sektor semikonduktor dalam negeri dan kenaikan harga minyak global.
>>> Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan pada Juni 2026
Salah satu anggota dewan yang tidak setuju dengan penahanan suku bunga berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi domestik akan melampaui potensi tahun ini dan tahun depan.
Anggota tersebut menilai kenaikan seperempat poin persentase diperlukan guna menahan ekspektasi inflasi yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar won dan harga minyak.
Anggota dewan lain menambahkan bahwa performa positif sektor semikonduktor sudah lebih dari cukup untuk mengompensasi dampak buruk konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, beberapa pejabat yang memilih mempertahankan suku bunga mengakui adanya peningkatan risiko stabilitas keuangan akibat utang rumah tangga, volatilitas mata uang won, serta lonjakan harga properti di wilayah metropolitan Seoul.
Penjualan saham domestik oleh investor asing tercatat ikut menekan nilai tukar won di tengah kuatnya kinerja ekspor.
Sebagian besar anggota dewan pada akhirnya memilih untuk menunggu bukti tambahan mengenai penyebaran tekanan inflasi di luar sektor energi sebelum mengeksekusi kebijakan baru.
>>> Kejaksaan Agung Kaji Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya
Bank Sentral Korea dijadwalkan kembali menggelar rapat penetapan kebijakan moneter selanjutnya pada 16 Juli.