⌂ Beranda News Dampak Tersembunyi dari Email Kasar di Tempat Kerja

Dampak Tersembunyi dari Email Kasar di Tempat Kerja

Dampak Tersembunyi dari Email Kasar di Tempat Kerja
Ilustrasi email kasar di tempat kerja
A A Ukuran Teks16px

Menerima email kasar di tempat kerja? Anda tidak sendirian.

Meskipun tampak sepele, konsekuensi dari ketidaksopanan melalui email bisa sangat luas.

>>> Citi Turunkan Target Harga Saham Salesforce Jadi $188

Seorang peneliti mengaku langsung berhenti setelah menerima email singkat dari rekan kerja yang memintanya mengulang tugas dari awal karena masalah teknis.

Sekitar waktu yang sama, ribuan pegawai pemerintah AS menerima email yang meminta mereka menjelaskan pencapaian mingguan dalam lima poin—atau mengundurkan diri.

Penelitian tahun 2015 menunjukkan sepertiga karyawan menerima setidaknya satu email kasar per hari. Email kini semakin sentral dalam pekerjaan.

Dampak Psikologis dan Fisik

“Semua bentuk ketidaksopanan menimbulkan keausan emosional,” kata Sandra Robinson, Profesor Perilaku Organisasi di University of British Columbia. Email kasar tidak terkecuali.

Studi terbaru terhadap lebih dari 1.000 karyawan menemukan bahwa email kasar memicu ruminasi kerja—mengulang-ulang percakapan di kepala—yang membuat sulit memutuskan hubungan dari pekerjaan dan terkait dengan tingkat kecemasan serta depresi yang lebih tinggi.

Berbeda dengan komentar verbal kasar, email kasar dapat dibaca berulang kali, memperparah dampak psikologis, kata Zhenyu Yuan, asisten profesor di University of Illinois Chicago.

Dampak fisik juga ada.

Gary Giumetti, profesor psikologi di Quinnipiac University, menunjuk pada penelitian yang menghubungkan email kasar dengan sakit kepala, sakit perut, kelelahan, dan peningkatan reaktivitas detak jantung yang terkait dengan risiko masalah jantung.

Studi lain menemukan bahwa ketidaksopanan pasif, seperti diabaikan tanpa balasan, terkait dengan insomnia. Ketidakpastian apakah itu disengaja membuat orang terus memeriksa kotak masuk.

Penelitian Giumetti menunjukkan email bermusuhan memprediksi lebih banyak ketidakhadiran dan niat berhenti yang lebih tinggi.

Dalam eksperimen, penerima email kasar tampil lebih buruk dalam tugas matematika, melaporkan energi lebih rendah, dan kurang membantu orang lain.

Email kasar juga mengikis kepercayaan antara pekerja dan pemimpin tim, serta dapat mengarah pada perilaku menyimpang seperti pencurian.

Dampaknya bisa terbawa ke rumah.

>>> Benchmark Pertahankan Rating Beli untuk Alibaba Usai Pertumbuhan AI Tiga Digit

Verena Haun, profesor psikologi kerja di University of Würzburg, menemukan bahwa stres akibat email kasar pada satu pasangan memengaruhi pasangannya di akhir pekan.

Mengapa Orang Mengirim Email Kasar

Lingkungan kerja berperan. Industri bertekanan tinggi, beban kerja berlebihan, persaingan internal, dan pengawasan buruk meningkatkan kemungkinan email kasar, kata Giumetti.

Dalam studi 2009, 91% pekerja perbankan di Singapura melaporkan ketidaksopanan atasan melalui email.

Faktor pribadi juga penting. Orang dengan neurotisisme tinggi dan keramahan rendah lebih mungkin mengirim dan menafsirkan email sebagai kasar.

Konsumsi alkohol dan kelelahan juga berkontribusi karena mengurangi kontrol diri.

Media email sendiri juga patut disalahkan. “Email menciptakan jarak psikologis,” kata Haun.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru