Harga minyak dunia mencatat penguatan terbatas pada perdagangan Selasa (9/6). Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap kerapuhan gencatan senjata antara Iran dan Israel.
Berdasarkan data Reuters, minyak mentah Brent naik 13 sen atau 0,14 persen ke level US$94,38 per barel.
>>> BPJS Kesehatan Catat Rasio Klaim JKN Capai 108,72 Persen per April 2026
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 11 sen atau 0,12 persen ke posisi US$91,41 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga 5 persen pada sesi sebelumnya. Lonjakan itu dipicu serangan militer Israel ke Lebanon yang dibalas langsung oleh Iran.
Namun, laju kenaikan terbatas setelah militer Iran mengumumkan penghentian serangan terhadap Israel. Penghentian itu menyusul imbauan dari Presiden AS Donald Trump.
>>> Timnas Indonesia Tekuk Mozambik dan Naik ke Peringkat 118 FIFA
Keraguan Pasar terhadap Gencatan Senjata
Analis pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan pelaku pasar masih ragu dengan ketahanan kesepakatan damai sementara.
"Meski ada sedikit kelegaan dari jeda serangan, investor belum yakin gencatan senjata ini akan bertahan," ujarnya.
Ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor utama yang diperhitungkan pasar. Analis IG Tony Sycamore menambahkan, latar belakang geopolitik masih tegang dan kesepakatan damai berkelanjutan sulit dicapai.
Di tengah jeda militer, Teheran tetap memperingatkan akan meluncurkan serangan balasan jika Israel kembali menargetkan Hizbullah di Lebanon.
>>> Argentina Uji Coba Lawan Islandia di Alamodome Jelang Piala Dunia 2026
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan siap memberikan jawaban dengan kekuatan penuh.
Dalam wawancara dengan Axios, Presiden Trump mengaku telah memperingatkan Netanyahu agar menghindari perang baru dengan Iran. Trump menegaskan Israel harus berjuang sendiri jika memicu konflik terbuka.
Fokus pasar kini tertuju pada perundingan damai Washington-Tehran.
>>> IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Jangka Pendek Setelah Melonjak 7,57 Persen
Salah satu agenda utama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur maritim yang menampung seperlima pasokan minyak dunia sebelum berhenti beroperasi akibat serangan udara AS dan Israel pada akhir Februari lalu.