⌂ Beranda News Saham Asia Diprediksi Melemah Akibat Volatilitas Wall Street dan Konflik Iran

Saham Asia Diprediksi Melemah Akibat Volatilitas Wall Street dan Konflik Iran

Saham Asia Diprediksi Melemah Akibat Volatilitas Wall Street dan Konflik Iran
Grafik saham Asia menurun
A A Ukuran Teks16px

Pasar saham di Asia diperkirakan mengalami penurunan setelah sesi perdagangan yang fluktuatif di Wall Street.

Investor kini mencermati perkembangan konflik di Iran dan menanti rilis data inflasi Amerika Serikat untuk bulan Mei.

>>> Arab Saudi Hadapi Senegal di Laga Uji Coba Pamungkas

Indeks kontrak berjangka untuk pasar saham Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan menunjukkan pergerakan ke zona merah.

Kontrak berjangka saham AS juga terkoreksi tipis setelah indeks S&P 500 bergerak fluktuatif pada hari Selasa dan memangkas sebagian besar penurunan sebelum ditutup melemah tipis.

Sementara itu, indeks Nasdaq 100 mengalami penurunan sebesar 1,1 persen.

Koreksi ini terjadi karena para pemodal terus melakukan rotasi investasi dengan keluar dari sektor saham teknologi yang sebelumnya menjadi penopang utama reli pasar sepanjang tahun ini.

Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate merangkak naik pada awal perdagangan setelah melewati sesi yang dinamis.

Patokan harga minyak AS tersebut sebelumnya sempat merosot lebih dari 3 persen akibat sinyal penurunan permintaan yang menutupi kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan pertahanan diri terhadap Iran.

Langkah ini diambil beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter militer Amerika Serikat di wilayah dekat Oman.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi gencatan senjata yang selama ini rapuh.

Selain itu, situasi ini mengancam harapan pasar terkait tercapainya kesepakatan baru untuk memulihkan stabilitas arus pasokan energi global.

Rotasi Sektor dan Data Inflasi

Gejolak pada saham teknologi kini menguji daya tahan pasar yang sebelumnya menyentuh rekor tertinggi akibat optimisme kecerdasan buatan atau AI.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang kokoh memicu keraguan terhadap peluang penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini fokus menunggu laporan inflasi yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu.

Data tersebut akan menjadi acuan penting untuk memprediksi apakah Federal Reserve bakal mempertahankan tingkat suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

>>> Truk Kontainer Muat MSG Tabrak Dua Warung di Cirebon, Satu Tewas

"Euforia sudah terbentuk selama berbulan-bulan dan mendorong saham mencetak rekor demi rekor.

Jadi apa pun yang dipersepsikan negatif bagi saham, mulai dari inflasi lebih tinggi hingga potensi kenaikan suku bunga akan mengguncang pasar setelah reli historis," kata Chief Investment Officer Baker Boyer Bank, John Cunnison.

Meskipun saham teknologi melemah, pergerakan positif justru meluas ke sektor-sektor lain di bursa saham Amerika Serikat.

Tercatat ada sembilan dari total 11 sektor di dalam indeks S&P 500 yang berhasil membukukan penguatan.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru