Sektor defensif memimpin reli dengan kenaikan real estate sebesar 2,1 persen, layanan kesehatan meningkat 1,3 persen, dan utilitas naik 1,1 persen.
Sektor teknologi bersama energi menjadi dua bidang yang mengalami pelemahan pada perdagangan tersebut.
Rotasi modal ini berbanding terbalik dengan kondisi reli sebelumnya yang hanya terpusat pada beberapa perusahaan teknologi raksasa.
Pergeseran ini dinilai memberikan dinamika baru terhadap struktur kekuatan pasar modal secara keseluruhan.
"Meski kami senang melihat kepemimpinan sektor teknologi, akan lebih konstruktif jika reli ini meluas ke sektor lain," kata Bret Kenwell dari eToro.
"Ketika kepemimpinan hanya terkonsentrasi pada satu sudut sektor teknologi, fondasi pasar menjadi lebih fragile," tambahnya.
Fluktuasi harga juga melanda saham-saham dengan penilaian valuasi tinggi menjelang rencana penerbitan saham baru skala besar.
Salah satu aksi korporasi yang dinantikan pasar adalah penawaran umum perdana atau IPO dari SpaceX yang dijadwalkan meluncur pekan ini.
Rencana penambahan pasokan saham baru tersebut memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Muncul pertanyaan mengenai kesiapan likuiditas investor untuk menyerap saham baru tanpa mengorbankan atau menekan nilai kapitalisasi saham lain yang sudah ada.
"Uangnya berasal dari mana?" kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise.
>>> Kemenkes Dukung Penataan Ulang Program Makan Bergizi Gratis
"Sebagian permintaan mungkin berasal dari kas. Sebagian lagi dari partisipasi investor ritel baru.
Namun partisipasi institusi dalam transaksi sebesar ini juga dapat memaksa investor mengurangi kepemilikan saham yang sudah mencetak keuntungan besar," ujarnya.
Pada pasar pendapatan tetap, obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury mencatatkan penguatan.
Penurunan harga minyak mentah dari level tertinggi tahunan ikut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang tinggi.
Kondisi tersebut membuat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS turun sekitar tiga hingga empat basis poin di seluruh tenor.
Penurunan ini memberikan sedikit ruang pelonggaran bagi sentimen negatif yang membayangi pasar keuangan global.
Koreksi harga minyak dari level puncak pada April lalu setidaknya mengurangi kecemasan bahwa biaya energi akan terus memicu inflasi tinggi.
Situasi inflasi yang terkendali diharapkan tidak memaksa Bank Sentral AS untuk mengambil kebijakan moneter yang jauh lebih ketat.
Walau demikian, para pelaku pasar tetap bersiap mengantisipasi bukti baru mengenai persistensi tekanan harga melalui rilis data indeks harga konsumen atau CPI.
Data ekonomi penting ini dijadwalkan keluar pada hari Rabu waktu setempat.
Sejumlah ekonom yang mengikuti survei Bloomberg memperkirakan bahwa laju inflasi tahunan CPI Amerika Serikat akan naik menjadi 4,2 persen pada Mei.
Angka perkiraan ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 3,8 persen.
Untuk inflasi inti yang tidak menghitung fluktuasi harga komponen makanan dan energi diproyeksikan mengalami kenaikan tipis.
Data tersebut diperkirakan bergerak ke level 2,9 persen dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,8 persen.
>>> Pemerintah Wajibkan E-Commerce Tolak Pedagang Tanpa NIB
"Kombinasi data tenaga kerja yang lebih kuat dan inflasi yang masih tinggi membuat pasar mulai memperhitungkan peluang lebih besar bahwa The Fed harus memperketat kebijakan," kata Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg.