⌂ Beranda News Pasar Nikel Hadapi Fase 'Super Squeeze', Vale Siapkan Mitigasi

Pasar Nikel Hadapi Fase 'Super Squeeze', Vale Siapkan Mitigasi

Pasar Nikel Hadapi Fase 'Super Squeeze', Vale Siapkan Mitigasi
Tambang nikel Vale Indonesia
A A Ukuran Teks16px

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menilai lonjakan harga logam dasar, termasuk nikel, belakangan terjadi akibat suplai komoditas tersebut di pasar global yang mengetat saat permintaan menguat.

Anomali harga logam dasar yang dipengaruhi persepsi akan pengetatan suplai global itu, menurut Vale, mengingatkan bahwa harga nikel memiliki histori bergerak secara siklikal.

>>> Bahlil Tegaskan Gross Split Hanya untuk Migas, Bukan Minerba

Perseroan tetap mewaspadai terjadinya koreksi harga nikel pada masa mendatang.

Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto menegaskan saat ini cukup sulit untuk memprediksi batas atas penguatan harga nikel.

Begitu juga jika terjadi koreksi, penurunannya bakal sulit ditebak.

“Ilmu dasarnya supply demand.

Mungkin sekarang lagi tight, karena demand-nya lagi menguat atau suplainya lagi ketat, atau persepsi atas demand dan supply lagi menyebabkan harga naik,” kata Anto, sapaan Bernadus, ditemui di sela Indonesia Critical Mineral Conference, medio pekan lalu.

“Ya, pasti akan nanti ada penyesuaian-penyesuaian. Namun, seperti apa ya?

Tergantung. Never know lah.

One billion dollar question,” lanjutnya.

Anto memastikan kondisi tersebut bakal dimanfaatkan perseroan dengan terus melakukan investasi strategis, seperti yang sudah dicanangkan sebelumnya.

“Ya sudah, kalau kita percaya bahwa nikel adalah mineral masa depan, dan buat Vale kita percaya itu, ya sudah.

Semua investasi strategis yang kita lakukan, kita gas,” tegasnya.

HSBC Sebut Fase Super Squeeze

Sebelumnya, HSBC Holdings Plc.

>>> Prabowo Lantik Nanik Deyang dan Said Iqbal di Istana Negara

memandang sejumlah komoditas logam dasar sedang mengalami fase super squeeze yang akan memburuk jika Selat Hormuz tetap tertutup.

“Makin lama selat ditutup, makin menipis persediaan, makin besar pula kemungkinan kita mencapai 'titik kritis' di pasar untuk beberapa komoditas,” kata analis termasuk Paul Bloxham dalam laporan 1 Juni.

Mengetahui secara pasti kapan itu akan terjadi sulit untuk ditentukan, tambah mereka.

Di luar Timur Tengah, prospek luas HSBC juga menyoroti faktor-faktor bullish lainnya untuk komoditas, termasuk meningkatnya konsumsi logam dasar seperti tembaga, dan fenomena cuaca El Niño yang akan datang yang mungkin merusak pasokan panen.

Siklus komoditas secara keseluruhan tetap dalam fase yang disebut “super bull”, tetapi “ini sangat berbeda dengan ‘supercycle’ sebelumnya, karena didorong oleh gangguan pasokan,” kata para analis.

“Alih-alih ‘supercycle’, kami menyebutnya ‘super squeeze’,” kata mereka, mengutip penelitian bank sebelumnya.

Di sektor logam, harga aluminium mencapai level tertinggi dalam empat tahun, sementara tembaga berada di angka US$13.976 per ton, naik 13% tahun ini.

Untuk aluminium, “kisah permintaan strukturalnya positif, tetapi pendorong utama belakangan ini adalah kerusakan kapasitas peleburan di Timur Tengah,” kata para analis.

“Kenaikan harga tembaga terutama didorong oleh permintaan.”

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru