⌂ Beranda News Saat Nikel Bullish, Smelter RI Tertekan Biaya Energi dan Harga Ore

Saat Nikel Bullish, Smelter RI Tertekan Biaya Energi dan Harga Ore

Saat Nikel Bullish, Smelter RI Tertekan Biaya Energi dan Harga Ore
Smelter nikel di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai industri smelter di Indonesia justru mengalami tekanan biaya produksi di tengah tren bullish harga logam nikel.

Ketua Umum FINI Arif Perdanakusumah mengatakan harga nikel di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Metals Market (SMM) memang naik, dipengaruhi pemangkasan produksi Indonesia dan revisi formula harga patokan mineral (HPM).

>>> Jadwal KA Dharmawangsa Ekspres Surabaya-Jakarta 2026, Berangkat Malam Tiba Pagi

Namun, ia menegaskan smelter saat ini menanggung beban ganda dari kenaikan biaya energi dan harga bijih nikel akibat formula HPM baru.

Tekanan pada Smelter Pirometalurgi dan HPAL

Smelter pirometalurgi RKEF menghadapi lonjakan biaya energi dari harga solar industri dan batu bara yang naik.

Formula HPM baru menambah biaya operasional hingga US$600 per ton.

“Biaya energi ini apalagi kalau teknologi pirometalurgi itu kan membutuhkan tidak hanya bahan bakar minyak bumi, tetapi juga batu bara untuk PLTU,” ujar Arif.

Sementara itu, smelter hidrometalurgi HPAL mengalami kenaikan biaya operasional US$2.400–US$2.600 per ton sejak HPM baru diterapkan.

Smelter HPAL juga terbebani lonjakan harga sulfur yang naik berkali-kali lipat.

>>> Biznet Tetap Ekspansi Jaringan Fiber Optik Meski Harga Perangkat Impor Naik

“Jangan sampai kebijakan fiskal jangka pendek memperburuk kondisi ini,” tegas Arif.

Proyeksi Harga Bijih Nikel dan Dampak Sulfur

SMM memprediksi harga bijih nikel kadar rendah Indonesia melonjak ke US$48,18 per wet metric ton (wmt) setelah revisi HPM.

HPM baru untuk bijih nikel kadar 1,2% diperkirakan naik 151% menjadi US$40,18/wmt, dibandingkan HPM lama sekitar US$16–US$17/wmt.

Saat ini, harga rata-rata bijih tersebut sekitar US$30,5/wmt.

Untuk bijih saprolit kadar 1,5%, HPM diprediksi di level US$57,13/wmt, di bawah rata-rata harga pasar US$70,7/wmt.

Sulfur digunakan sebagai bahan baku produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) melalui proses HPAL.

>>> Pertamina dan ITS Operasikan Kapal Pembersih Sampah Otomatis di Bali

Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.

Pada 2025, harga sulfur FoB Timur Tengah sekitar US$170/ton, dan per April 2026 naik ke US$520/ton atau meningkat lebih dari 200%.

Berdasarkan data Platts per 28 Mei 2026, harga sulfur Timur Tengah mencapai US$815–US$820/ton, bahkan sulfur Brasil menyentuh US$1.200/ton.

Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah, dengan Arab Saudi sebagai pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton.

Harga nikel di LME bertahan di level US$18.064/ton pada Rabu (10/6/2026), turun 1,51% dari penutupan sebelumnya.

Nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze, namun kemudian menurun tajam.

>>> Samsung Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G untuk Dukung Video Sinematik

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam empat tahun terakhir.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru