⌂ Beranda News Produksi Smelter Nikel IWIP Turun 15 Persen Akibat Kelangkaan Bijih

Produksi Smelter Nikel IWIP Turun 15 Persen Akibat Kelangkaan Bijih

Produksi Smelter Nikel IWIP Turun 15 Persen Akibat Kelangkaan Bijih
Smelter nikel di Indonesia Wedabay Industrial Park
A A Ukuran Teks16px

Produksi nickel pig iron (NPI) berkadar tinggi di smelter pirometalurgi kawasan Indonesia Wedabay Industrial Park (IWIP) mengalami penurunan hingga 15 persen.

Penurunan ini dipicu oleh kelangkaan pasokan bijih nikel dan keterbatasan listrik.

>>> Stimulus Fiskal Harus Diarahkan ke Industri Padat Karya untuk Ciptakan Lapangan Kerja Formal

Informasi tersebut dilansir dari Bloomberg Technoz yang merujuk pada catatan resmi Shanghai Metals Market.

Beberapa lini produksi pada fasilitas rotary kiln electric furnace terpaksa dihentikan sementara untuk pemeliharaan berkala di tengah melonjaknya biaya operasional.

"Fasilitas di Weda Bay yang berada di kawasan industri IWIP mengumumkan produksi NPI berkualitas tinggi akan dikurangi sebesar 10%—15% dalam beberapa bulan mendatang," tulis catatan Shanghai Metals Market.

Lembaga riset tersebut menambahkan bahwa langkah penutupan operasi sementara ini bukan hal baru.

"Dengan beberapa jalur produksi telah menjalani masa penghentian operasional untuk pemeliharaan sejak Maret akibat kelangkaan bijih dan kenaikan biaya operasional," tulis Shanghai Metals Market.

>>> Garena Bagikan Kode Redeem Free Fire 17 Juni 2026, Ada Skin Eksklusif

Manajemen pengelola kawasan industri sebelumnya telah menginstruksikan produsen nikel lokal untuk menekan volume produksi sepanjang Juni 2026. Tujuannya untuk mengalihkan daya listrik bagi kebutuhan smelter aluminium.

Penurunan sebesar 15 persen ini setara dengan hilangnya pasokan nikel murni sebesar 6.000 ton per bulan dari kapasitas normal sebesar 40.000 ton.

"Secara tersendiri, volume ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah pasar nikel global keluar dari kondisi surplus, tetapi dapat memberikan dukungan langsung terhadap impor NPI ke China, sentimen pembelian pabrik, dan premi untuk NPI kadar tinggi," ujar Analis Nikel dan Stainless Steel Shanghai Metals Market, Bruce Chew.

Krisis Serupa di Unit Hidrometalurgi

Krisis operasional serupa melanda unit hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach milik Zhejiang Huayou Cobalt Co., yaitu PT Huafei Nickel Cobalt.

Perusahaan tersebut menghentikan sebagian produksinya sejak 1 Mei 2026 akibat lonjakan harga sulfur global.

Langkah pemeliharaan darurat tersebut diperkirakan memangkas kapasitas produksi normal pabrik hingga setengahnya.

>>> Google Resmi Luncurkan Android 17 Stabil untuk Perangkat Pixel

Dampak penutupan ini diperparah oleh potensi defisit bahan baku masif yang membayangi operasional jangka panjang seluruh kawasan industri di Halmahera.

"Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan Anda tahu seperti yang saya sampaikan dalam presentasi, konsumsi bijih di area IWIP adalah 120 juta ton.

Tahun lalu kami memasok 42 juta.

Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel," kata CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet.

Kekurangan pasokan nikel masif tersebut terjadi menyusul habisnya kuota produksi tahun 2026 milik PT Weda Bay Nickel yang hanya disetujui sebesar 12 juta ton oleh pemerintah.

>>> Disdik Jabar Rilis Hasil Pemetaan Calon Murid Baru SPMB 2026

Guna mengantisipasi mandeknya lini produksi, manajemen smelter kini dipaksa mencari alternatif pasokan bahan baku dari wilayah Sulawesi hingga melakukan impor dari Filipina dengan konsekuensi biaya logistik yang jauh lebih tinggi.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru