Organisasi negara pengekspor minyak (OPEC+) sepakat untuk meningkatkan target produksi minyak bumi mereka. Langkah ini menjadi rencana peningkatan produksi yang keempat kalinya dalam beberapa bulan terakhir.
Keputusan tersebut tercapai setelah tujuh dari 21 anggota OPEC+ menggelar pertemuan pada Minggu (7/6) kemarin.
>>> Kemenpar Integrasikan Kecerdasan Buatan MaiA dalam Ekosistem Digital Pariwisata
Ketujuh negara itu adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.
Dalam beberapa tahun belakangan, hanya ketujuh negara itu yang aktif terlibat dalam pengambilan kebijakan produksi kelompok tersebut.
Dampak Konflik AS-Iran dan Keluarnya UEA
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran telah memotong arus minyak dunia yang biasanya melewati Selat Hormuz. Hal ini memicu krisis pasokan energi terbesar di dunia.
Negara anggota utama OPEC+, termasuk Arab Saudi, tidak bisa memasok minyak secara bebas sejak akhir Februari.
>>> Chandra Asri Pacific Tingkatkan Saham Publik Jadi 25,7 Persen
Tekanan bagi OPEC+ semakin berat setelah Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi keluar dari kelompok pengekspor minyak tersebut.
UEA telah bergabung hampir 60 tahun.
Situasi ini memaksa tujuh anggota inti OPEC+ menaikkan kuota produksi mereka dari April hingga Juni hampir 600.000 barel per hari.
Meskipun target terus dinaikkan, realisasi produksi minyak mentah organisasi tersebut sebenarnya mengalami penurunan drastis.
Berdasarkan data resmi OPEC, pemotongan ekspor oleh negara anggota Teluk membuat rata-rata produksi merosot menjadi 33,19 juta barel per hari pada April, dibandingkan 42,77 juta barel per hari pada Februari.
>>> Israel Serang Iran, Abaikan Peringatan Trump untuk Menahan Diri
Pada hari Minggu (7/6), ketujuh anggota memutuskan untuk meningkatkan target sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli, kata OPEC dalam sebuah pernyataan.
Penyesuaian target ini serupa dengan kenaikan pada Juni, yang diubah turun dari kenaikan bulanan sebesar 206.000 barel per hari pada Mei dan April demi memperhitungkan hengkangnya UEA.
Di sisi lain, kuota produksi minyak untuk Irak dijadwalkan naik sebesar 26.000 barel per hari mulai Juli mendatang melalui kesepakatan ini.
"Peningkatan produksi OPEC+ tidak berarti banyak selama Selat Hormuz tetap tertutup," kata Jorge Leon, seorang analis di Rystad dan mantan pejabat OPEC.
>>> Garena Bagikan Kode Redeem Free Fire 8 Juni 2026 untuk Klaim Item Langka
"Ketika Selat Hormuz dibuka kembali, pasar dapat dengan cepat beralih dari kekhawatiran akan kekurangan menjadi kekhawatiran akan kelebihan pasokan," ujarnya lagi.