Qatar mulai mengembalikan sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menggenjot ekspor setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
Rencana pembukaan jalur pelayaran krusial itu menyusul kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
>>> APJIPMI Laporkan Dugaan Monopoli Dua Merek Termitisida ke KPPU
Berdasarkan data pelacakan kapal, minimal empat armada tanker kosong milik Qatar mulai bergerak kembali ke wilayah tersebut.
Sebelumnya, kapal-kapal itu sempat menganggur atau berlayar ke rute lain. Beberapa kapal lain yang disewa Qatar juga dilaporkan tengah berlayar menuju kawasan yang sama.
Seluruh kapal tanker mengarahkan sinyal navigasi ke Ras Laffan, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia yang berlokasi di Qatar.
Selain armada yang bergerak, empat kapal tanker lain terhubung dengan Qatar terpantau lego jangkar di Teluk Oman.
>>> Kementerian ESDM Belum Berencana Percepat Revisi RKAB Batu Bara 2026
Kapal-kapal itu disinyalir bersiap melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia. Sejak konflik pecah pada Februari, Qatar belum pernah mengoperasikan kapal kosong ke area teluk tersebut.
Pengaktifan kembali armada ini menjadi indikasi kuat bahwa Qatar bersiap memulihkan volume produksinya.
Meskipun baru sebagian kecil dari total sekitar 70 armada kapal tanker yang dimiliki, pemulihan kapasitas ekspor ditargetkan berjalan signifikan.
Qatar memproyeksikan sebagian besar kapasitas ekspornya dapat pulih dalam dua bulan. Proses mendatangkan kembali kapal tanker menjadi bagian krusial dalam skema pemulihan tersebut.
Momentum ini bertepatan dengan rencana finalisasi kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata. Pakta perdamaian sementara yang dijadwalkan ditandatangani pada Jumat memuat sejumlah poin penting.
>>> FBI Latih Agen Kejahatan Siber di Replika Kota Cyber Range
Teheran diwajibkan menjamin keamanan pergerakan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, AS berkomitmen mencabut blokade yang selama ini diterapkan.
Kembalinya pasokan LNG dari Qatar berpotensi meredakan tekanan krisis energi global.
Kondisi ini sangat dinantikan mengingat harga bahan bakar di pasar Eropa dan Asia masih tinggi dibandingkan periode sebelum perang.
Selama konflik, Qatar tetap mengekspor ke sejumlah pembeli di Asia secara terbatas dengan menyembunyikan lokasi radar kapal tanker.
>>> Kenali Pola Pikir Negatif yang Picu Cemburu Berlebihan Menurut Ahli
Volume pengiriman saat itu jauh lebih rendah dari kapasitas normal.
