Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi sinyal awal fenomena upwelling musim timur 2026 di sejumlah perairan selatan Indonesia.
Temuan ini berdasarkan analisis parameter oseanografi periode 1 hingga 7 Juni 2026.
>>> BTN Berhasil Tekan Rasio NPL Jadi 3,1 Persen Berkat Transformasi Bisnis
Upwelling adalah proses naiknya massa air laut yang kaya nutrien ke permukaan. Fenomena ini berpotensi mendukung ketersediaan sumber daya ikan nasional.
Kondisi yang terdeteksi memiliki intensitas lemah hingga sedang. Tandanya meliputi penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan salinitas.
Selain itu, muncul arus vertikal ke atas serta kenaikan konsentrasi klorofil. Hal ini memicu pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut.
Wilayah Terdampak
Sinyal awal upwelling musim timur ini berpusat di koridor selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.
>>> Laba Industri P2P Lending Melonjak 71 Persen pada April 2026
Hal ini disampaikan oleh Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.
"Berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026, sinyal awal keaktifan upwelling mulai terlihat di beberapa wilayah perairan Indonesia.
Namun, intensitasnya masih lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial," ujar Widodo Setiyo Pranowo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.
>>> Timnas Indonesia U-19 Ungguli Vietnam 1-0 di Babak Pertama Piala AFF
BRIN juga mencatat peningkatan produktivitas perairan di wilayah lain.
Misalnya Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, barat Sumatra hingga Laut Andaman, serta selatan Selat Makassar menuju Laut Flores melalui mekanisme non-klasik.
Sementara itu, wilayah seperti Selat Malaka, Laut Jawa, hingga perairan Pasifik barat utara Papua masih hangat dengan klorofil rendah.
"Upwelling yang mulai terdeteksi pada awal Juni ini perlu terus dipantau melalui observasi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus vertikal, nutrien, klorofil, dan angin permukaan.
>>> Max Verstappen Rebut Posisi Start Kedua di GP Monako 2026
Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami perkembangan fenomena ini sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lebih adaptif," pungkas Widodo.
