Minuman cold-pressed juice semakin populer di kalangan pecinta gaya hidup sehat.
Harganya yang lebih tinggi sering dikaitkan dengan klaim kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan jus dari blender biasa.
>>> KAI Beri Diskon 30% Tiket Kereta Ekonomi Komersial Sambut Liburan Sekolah
Metode cold-pressed bekerja dengan menekan bahan secara perlahan tanpa menghasilkan panas berlebih. Berbeda dengan blender atau juicer sentrifugal yang menghasilkan panas dan oksigen lebih tinggi selama proses.
Proses tanpa panas ini diyakini mampu menjaga vitamin dan antioksidan yang sensitif terhadap suhu tinggi. Namun, apakah klaim tersebut selalu benar?
Hasil Penelitian Berbeda Tergantung Bahan
Pengujian terhadap jus anggur menunjukkan bahwa alat pemeras berkecepatan rendah (cold-pressed) menghasilkan kadar polifenol sekitar 327 mg per 100 mL.
>>> Ollie Robinson Rebut Empat Wicket dalam Laga Inggris Kontra Selandia Baru
Angka ini lebih tinggi dibandingkan blender yang hanya 250 mg per 100 mL, dan jauh di atas juicer sentrifugal yang hanya 90 mg per 100 mL.
Kadar vitamin C tertinggi juga ditemukan pada metode cold-pressed, yaitu 0,78 mg per 100 mL.
Sementara blender menghasilkan 0,40 mg per 100 mL dan juicer sentrifugal 0,17 mg per 100 mL.
Namun, keunggulan tersebut tidak konsisten pada semua jenis buah dan sayur.
>>> Timnas Rumania Taklukkan Wales 2-1 dalam Laga Persahabatan di Bucharest
Studi lain terhadap nanas, jambu biji, wortel, dan buah naga tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kadar vitamin C, total fenolik, karotenoid, maupun kapasitas antioksidan.
Artinya, label cold-pressed bukan jaminan mutlak bahwa nutrisinya jauh lebih tinggi. Variasi nilai gizi tetap dipengaruhi oleh jenis bahan, metode pengolahan, dan lama penyimpanan.
Kesimpulannya, cold-pressed juice memang bisa lebih unggul untuk beberapa bahan, tetapi tidak selalu lebih sehat dibandingkan jus blender.
>>> Timnas Qatar Hadapi El Salvador dalam Uji Coba Terakhir Sebelum Piala Dunia 2026
Pilihlah metode yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi Anda.