Banyak masyarakat yang menganggap obesitas sebagai kondisi turunan yang tidak bisa dihindari. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.
GK menegaskan bahwa faktor genetik bukan penyebab utama kelebihan berat badan.
>>> Peradi Bersatu: Penahanan Roy Suryo oleh Polda Metro Jaya Sesuai KUHAP
Menurut dr. Maryam, kontribusi genetik terhadap obesitas diperkirakan kurang dari 20 persen.
Faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup justru memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
"Jangan sampai ada anggapan, 'Dok, aku dari keluarganya sudah gemuk semua, jadi kayaknya enggak mungkin kalau mau turun.'
Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," kata dr. Maryam.
>>> Kanada Cukur Qatar 6-0, Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026
Obesitas Bukan Sekadar Berat Badan Berlebih
Dokter lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa obesitas adalah kondisi kompleks yang melibatkan fisik, metabolisme, hormon, psikologis, dan genetik.
Meski demikian, aspek lingkungan dan kebiasaan hidup harian adalah yang paling bisa dimodifikasi.
"Banyak yang bisa kita ubah, salah satunya adalah faktor lingkungan atau gaya hidup," ujarnya.
Dr. Maryam juga meluruskan kesalahpahaman tentang definisi obesitas. Ia menekankan bahwa obesitas bukan sekadar kelebihan berat badan, melainkan kelebihan lemak tubuh.
"Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tapi kelebihan lemak tubuh," jelasnya.
>>> Siemens Indonesia Perkuat Transformasi Digital Lewat Kemitraan Strategis
Ia mencontohkan fenomena skinny fat, yaitu seseorang yang tampak kurus namun memiliki persentase lemak tubuh tinggi.
Oleh karena itu, program penurunan berat badan harus disesuaikan secara personal melalui pengukuran objektif agar tidak menyebabkan penyusutan massa otot.
Kelebihan berat badan tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kolesterol. Kondisi ini juga berdampak buruk pada kesehatan reproduksi dan kesuburan.
Selain itu, obesitas berkaitan erat dengan masalah psikologis seperti depresi, gangguan citra tubuh, krisis percaya diri, dan gangguan makan.
>>> RUPST KSEI Kembali Tunjuk Fuad Rahmany sebagai Komisaris Utama
Efek negatifnya meluas pada penurunan produktivitas dan kualitas hidup secara menyeluruh.