Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan tujuh rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6).
Aksi militer Angkatan Udara IRGC diarahkan untuk menghantam pangkalan udara Ali al-Salem di Kuwait serta fasilitas utama Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
>>> Iran Syaratkan Pasukan Israel Mundur demi Perdamaian di Lebanon
Serangan balasan ini diluncurkan setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menembak jatuh empat drone serang satu arah milik Iran di dekat Selat Hormuz pada Jumat (5/6).
Rentetan tembakan rudal memicu dentuman keras di ibu kota Bahrain, Manama, serta mengaktifkan sirene peringatan serangan udara bagi warga setempat.
Di Kuwait, beberapa ledakan dilaporkan terdengar di area dekat Bandara Internasional Kuwait, yang mendorong militer setempat segera mengambil tindakan pertahanan aktif.
Pihak militer AS menyatakan telah berhasil mengantisipasi sebagian besar ancaman udara tersebut melalui sistem pertahanan mereka.
"Saat ini tidak ada laporan mengenai cedera yang menimpa personel AS, dan klaim Iran mengenai perusakan markas armada ke-5 AS di Bahrain adalah salah," demikian pernyataan CENTCOM.
Pemerintah Bahrain merespons situasi darurat ini dengan langsung mengeluarkan instruksi keselamatan resmi kepada seluruh masyarakat sipil.
"Sirene sudah dibunyikan. Warga diimbau tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat," demikian pernyataan Kemendagri Bahrain.
Ketegangan bersenjata antara kedua pihak sebelumnya telah meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap instalasi pengawasan pantai di wilayah Iran selatan sehari sebelum serangan rudal terjadi.
"Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," demikian pernyataan CENTCOM.
>>> Cara Cek Desil Bansos 2026 Secara Online Lewat HP
Pihak militer AS menegaskan bahwa tindakan penghancuran fasilitas radar di kota Goruk dan Pulau Qeshm merupakan langkah preventif demi keamanan jalur pelayaran internasional.
"Sementara serangan AS terhadap instalasi radar berfungsi untuk mencegah serangan lebih lanjut," lanjut pernyataan CENTCOM, dikutip AFP.
Di sisi lain, media internal pemerintah Iran membenarkan adanya aktivitas ledakan di wilayah teritorial mereka pada Sabtu dini hari tanpa rincian lebih lanjut.
"Tidak ada sumber resmi yang mengomentari asal suara atau detailnya," demikian laporan IRIB.
Dampak dari eskalasi ini juga memicu kecaman keras dari negara tetangga seperti Arab Saudi, di mana Putra Mahkota Mohammed bin Salman menyatakan kutukan atas serangan terhadap Bahrain setelah berkomunikasi dengan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa.
"Selama panggilan telepon, Pangeran Mohammed (MBS) menyatakan 'kecaman dan kecaman' Arab Saudi atas serangan yang menargetkan wilayah Bahrain," muat laman Turki, Anadolu Agency, Jumat (5/6/2026).
Pihak Arab Saudi juga menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama Bahrain dalam menghadapi segala bentuk gangguan keamanan di kawasan tersebut.