Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz untuk jalur pelayaran hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Keputusan ini diambil akibat peningkatan ketegangan di kawasan Teluk Persia pada Jumat (12/6/2026).
Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) mengonfirmasi kebijakan penutupan akses maritim tersebut. Langkah drastis ini menyusul serangkaian insiden keamanan di perairan strategis itu.
Sebelum pengumuman resmi, militer Iran dilaporkan melepaskan tembakan peringatan.
Tindakan itu dilakukan untuk menghalau sebuah kapal tanker yang mencoba melintas di dekat perairan lepas pantai Kota Sirik, Iran selatan.
Menyusul penerapan kebijakan baru, pihak militer Iran langsung mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh kapal yang mencoba melanggar zona larangan.
"Kami memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak akan segan untuk bertindak tegas terhadap kapal mana pun yang mencoba melintas tanpa izin," tegas komando IRGC.
Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai identitas kapal tanker yang terlibat dalam insiden penembakan tersebut.
Belum ada pula respons dari pihak internasional terkait pembatasan akses di salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia ini.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim krusial bagi ekonomi global. Sebagian besar ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait melewati selat ini.
Penutupan akses memicu kekhawatiran global terhadap lonjakan harga energi.