Kuwait mulai menawarkan penjualan minyak mentah kepada sejumlah kilang di Asia untuk pertama kalinya sejak perang Iran.
Langkah ini menjadi sinyal terbaru bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali meningkat.
>>> ASUS Zenbook DUO 2026: Laptop Dual Layar OLED 3K 144Hz untuk Multitasking Profesional
Sedikitnya 4 juta barel minyak ekspor utama Kuwait ditawarkan kepada kilang di China dan Korea Selatan.
Muatan tersebut diangkut menggunakan dua kapal tanker raksasa jenis very large crude carrier.
Informasi transaksi diperoleh dari trader yang mengetahui langsung aktivitas pasar. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak memiliki wewenang berbicara kepada media.
Penawaran ini memperkuat indikasi bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz mulai terbuka kembali. Kondisi itu terjadi seiring meningkatnya koordinasi Amerika Serikat terhadap lintasan kapal di kawasan Teluk Persia.
Produsen minyak di Teluk Persia kini semakin mampu mengirim kapal tanker keluar dari kawasan tersebut.
Meski demikian, Teheran hingga saat ini masih terus mengancam jalur pelayaran di selat strategis itu.
Untuk menghindari target serangan, sebagian besar kapal memilih melintasi jalur perairan dengan mematikan transponder pelacak. Praktik yang disebut "going dark" ini marak dilakukan demi keamanan pelayaran.
Minyak dari produsen terbesar kelima di kawasan Teluk Persia ini dimuat dari wilayah yang berada jauh di dalam teluk.
Akibatnya, kapal tanker harus melewati Selat Hormuz untuk menjangkau pasar global.
>>> ASUS Luncurkan Zenbook S16 OLED 2026, Laptop Tipis dengan Performa AI
Uni Emirat Arab tercatat telah menjual jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia kepada kilang-kilang di Asia.
Namun, total arus energi dari kawasan tersebut secara keseluruhan masih berada jauh di bawah level sebelum perang.
Para trader menyebutkan bahwa minyak tersebut ditawarkan langsung oleh perusahaan milik negara, Kuwait Petroleum Corp. Penjualan kali ini dipastikan tidak melalui pihak perantara perdagangan.
Barel minyak yang ditawarkan dilaporkan sudah keluar dari jalur perairan Selat Hormuz. Pasokan tersebut dapat segera dikirimkan ke pelabuhan tujuan di Asia, meski rincian syarat penjualan tidak dipublikasikan.
Pihak Kuwait Petroleum Corp. menolak memberikan komentar mengenai transaksi tersebut.
Penutupan efektif Selat Hormuz sebelumnya memicu gangguan pasokan energi terburuk dalam sejarah global.
Pasokan minyak berkadar sulfur tinggi yang umum diproduksi di kawasan tersebut sempat nyaris terputus total dari kilang dunia.
Kilang di Asia menjadi yang paling terdampak karena sebagian besar dirancang khusus mengolah jenis minyak berkadar sulfur tinggi.
Sebelum ini, perusahaan seperti Aramco Trading Co. milik Arab Saudi dan Abu Dhabi National Oil Co. juga menggunakan metode pelayaran gelap.
>>> Sektor Teknologi Tekan Wall Street, Saham Chip Kehilangan Momentum
Pantauan Aktivitas Kapal Tanker
Aktivitas kapal super tanker terpantau cukup aktif di sekitar pelabuhan Kuwait dalam beberapa waktu terakhir.
Super tanker Al Riqqa dan Dar Salwa terakhir terlihat bersandar di terminal Mina Al Ahmadi milik Kuwait pada akhir Mei dan awal Juni 2026.
Satelit pemantau kehilangan kontak setelah transponder pelacak kedua kapal tersebut berhenti mengirimkan sinyal. Posisi terkini dari kedua kapal super tanker tersebut masih belum diketahui secara pasti.
Pada pelayaran sebelumnya, super tanker Universal Winner yang membawa minyak Kuwait ke Korea Selatan berhasil melintasi selat tersebut pada Mei 2026.
Jalur lintasan yang digunakan diduga telah mendapat persetujuan dari otoritas Iran.
Kapal Eneos Endeavor yang terkait dengan Jepang juga melewati jalur sempit tersebut pada bulan yang sama.
Kapal tersebut membawa muatan minyak yang berasal dari Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Para trader menyebutkan bahwa arus pengiriman pada periode sebelumnya kemungkinan besar dilakukan dengan bantuan perantara perdagangan lainnya.
Gangguan yang terus berlanjut pada transmisi transponder membuat pergerakan kapal tangki sulit dipantau secara akurat.
>>> AS Serang Iran sebagai Balasan atas Penembakan Helikopter Militer
Kondisi ini menyebabkan jumlah pelayaran yang tercatat saat ini kemungkinan lebih rendah daripada kondisi riil di lapangan.