⌂ Beranda News Manipulasi Psikologis Dominasi Lonjakan Kejahatan Siber di Indonesia

Manipulasi Psikologis Dominasi Lonjakan Kejahatan Siber di Indonesia

Manipulasi Psikologis Dominasi Lonjakan Kejahatan Siber di Indonesia
Ilustrasi kejahatan siber social engineering di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Aksi manipulasi psikologis atau social engineering kini mendominasi lonjakan kasus kejahatan siber di Indonesia.

Tren ini menandai pergeseran fokus pelaku kriminal dari membobol sistem teknologi menjadi eksploitasi kelengahan manusia sebagai pintu masuk utama penipuan digital.

>>> Daftar 36 Titik SPKLU di Medan Terlengkap 2026

Kondisi tersebut memicu pembengkakan kerugian masyarakat akibat penipuan transaksi keuangan yang menyentuh angka Rp9,1 triliun.

Menanggapi situasi ini, pelaku industri menilai peningkatan literasi keamanan digital bagi masyarakat menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Data Tiger Research mengungkapkan bahwa social engineering menjadi pemicu 74,7% dari total kerugian akibat kejahatan siber di industri Web3 sepanjang kuartal I/2026.

Jumlah tersebut mencatatkan kenaikan drastis jika dibandingkan dengan perolehan pada 2025 yang berada di angka 64,3%.

Metode serangan yang digunakan penjahat siber juga semakin bervariasi.

Beberapa di antaranya meliputi phishing, layanan pelanggan palsu, pembuatan situs tiruan, penggunaan nomor telepon palsu, hingga penyebaran tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi perusahaan di mesin pencari internet.

>>> Nayla Purnama Dobrak Stigma Pelajar Sekolah Negeri lewat Serial Di Luar Nurul

Eskalasi ancaman ini berjalan beriringan dengan melonjaknya intensitas serangan siber di dalam negeri.

Berdasarkan catatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat sekitar 5,5 miliar serangan siber yang terjadi sepanjang 2025, atau melesat tujuh kali lipat dari rata-rata tahunan periode 2020—2024.

Di sisi lain, data kompilasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) memperlihatkan akumulasi kerugian akibat penipuan transaksi keuangan telah menembus Rp9,1 triliun dalam rentang waktu sejak 2024 hingga Januari 2026.

Perubahan Pola Kejahatan Siber

CEO Indodax William Sutanto menjelaskan bahwa pola kejahatan siber saat ini telah mengalami perubahan yang signifikan.

Peretas tidak lagi fokus menembus sistem digital yang rumit, melainkan lebih banyak memanfaatkan kelengahan pengguna untuk mengambil alih akun dan data pribadi.

William Sutanto memaparkan salah satu taktik yang frekuensinya terus meningkat adalah penyalahgunaan mesin pencari.

Pelaku memanfaatkannya untuk menampilkan nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, maupun tautan berbahaya yang menyerupai identitas resmi perusahaan.

>>> IHSG dan Rupiah Tertekan Aksi Jual Asing dan Likuiditas Ketat

Situasi ini tergolong rawan karena mayoritas pengguna internet cenderung menganggap informasi yang bertengger di halaman pertama mesin pencari sebagai sumber yang sudah pasti valid dan tepercaya.

Pihak pelaku industri menegaskan bahwa proteksi keamanan digital tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan penguatan sistem teknologi di sisi penyedia layanan.

Edukasi kepada pengguna memegang peranan krusial karena mayoritas modus penipuan saat ini menyasar aspek psikologis korban.

Guna mengantisipasi risiko, masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa keaslian alamat situs yang dikunjungi.

Publik juga diminta tidak langsung memercayai nomor telepon atau tautan dari hasil pencarian internet, serta selalu memanfaatkan kanal layanan resmi untuk kebutuhan transaksi dan bantuan akun.

Dominasi social engineering yang terus menguat menjadi indikasi bahwa serangan siber bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan masalah literasi.

>>> Kementerian ESDM Evaluasi Penerapan Skema Gross Split di Sektor Minerba

Di tengah akselerasi transformasi digital sektor keuangan, kecakapan masyarakat dalam mengidentifikasi modus penipuan menjadi benteng pertahanan utama.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru