Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis laporan terbaru mengenai adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 mencatat bahwa 18,2% responden telah mengakses layanan berbasis AI.
>>> Delapan Komoditas Pangan RI Sudah Swasembada Standar FAO
Mayoritas masyarakat, yaitu 81,8%, belum memanfaatkan teknologi tersebut. Generasi Z menjadi kelompok paling adaptif dengan 29,4% responden berusia 13-28 tahun menggunakan AI.
Angka ini melampaui Milenial (16,7%) dan Generasi X (7,5%).
Sementara itu, penggunaan AI pada Baby Boomers dan Pre-Boomers masih sangat minim, masing-masing hanya 0,8%.
Hiburan dan Pendidikan Jadi Sektor Utama
Laporan APJII mengonfirmasi bahwa hiburan menjadi ranah paling populer. Sebanyak 36,5% pengguna memanfaatkan AI untuk memproduksi atau mengakses konten video dan gambar generatif.
>>> Universal Rilis Trailer Shrek 5, Siap Tayang Juni 2027
Sektor pendidikan dan riset menyusul dengan 30,2%, meliputi chatbot pembelajaran, pencarian informasi, dan penyusunan ringkasan akademik.
Pemanfaatan untuk administrasi, penulisan otomatis, copywriting, dan analisis data mencapai 26,9%.
Adopsi asisten digital berbasis suara seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby berada di angka 6,4%.
>>> Microsoft Senyapkan Fitur Widgets Windows 11 demi Kurangi Gangguan
Generasi Z paling dominan menggunakan AI untuk hiburan (44,4%) dan pendidikan (34,9%), sedangkan Generasi X dan Milenial memimpin untuk produktivitas kerja.
Kesenjangan Gender dan Tantangan Literasi
Dari segi gender, pengguna laki-laki mencapai 19,7%, sedikit lebih tinggi dari perempuan (16,7%). Namun, perempuan lebih unggul dalam pembuatan konten generatif dan pendidikan.
Laki-laki lebih mendominasi dalam efisiensi kerja dengan 27%.
Penggunaan asisten suara juga dipimpin laki-laki (6,4%). Literasi digital masih menjadi hambatan utama: 46,6% responden belum menggunakan AI karena tidak mengetahuinya.
>>> Anggun C Sasmi Resmi Jadi Juri Drag Race France Musim Keempat
Selain itu, 22,7% merasa tidak membutuhkan layanan, dan 15,5% tidak paham cara mengoperasikannya.