⌂ Beranda News Kementerian ESDM Belum Terima Laporan Resmi Penundaan Impor Batu Bara China

Kementerian ESDM Belum Terima Laporan Resmi Penundaan Impor Batu Bara China

Kementerian ESDM Belum Terima Laporan Resmi Penundaan Impor Batu Bara China
Kapal pengangkut batu bara Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum menerima laporan resmi terkait kabar penundaan pembelian batu bara Indonesia oleh pihak China untuk periode Juni 2026.

Informasi tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

>>> IMA Tegaskan Pentingnya Transparansi Ekspor Batu Bara

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengaku baru mengetahui kabar tersebut dari laporan media massa.

Ia menegaskan belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai perusahaan mana yang terkena dampak dan jumlah kuantitasnya.

"Saya kalau sampai sekarang, yang terkait dengan China itu, sampai sekarang belum dapat informasi yang clear betul. Perusahaan mana yang di-cancel oleh China, terus berapa kuantitinya, dan lain-lain.

Saya belum dapat informasi," kata Tri di Kompleks Parlemen, Jumat (5/6/2026).

"Kalau kabar saya dapetnya dari media malahan," tambahnya.

Sebelumnya, Bloomberg News pada Rabu (3/6/2026) melaporkan bahwa Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) menyatakan sejumlah pembeli asal China menangguhkan impor untuk Juni 2026.

Kebijakan ini dikaitkan dengan rencana Indonesia memusatkan ekspor beberapa komoditas, termasuk batu bara, melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

>>> Weezer Umumkan Album Baru The Gold Album Rilis Agustus 2026

Analis CCTD Ma Yanxu menilai regulasi ekspor via DSI yang berlaku sejak 1 Juni telah memperlambat transaksi, mengerek harga, dan memperketat pasokan.

Namun, kendala ini disinyalir berada di pihak pembeli, bukan pada eksportir domestik.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga menegaskan tidak ada laporan penundaan ekspor dari para anggotanya. Penjualan ke luar negeri masih berjalan normal sesuai kontrak.

"Harus kita cek dulu apakah di Chinanya ada trouble atau seperti apa, kita harus cek. Apakah itu berhubungan, karena statusnya kan postpone.

Tapi enggak ada juga pertanyaan ke kita apakah berhubungan dengan DSI atau ekspor segala macem," kata Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani di sela Indonesia Critical Minerals Conference, Kamis (5/6/2026).

"Ekspor masih berjalan seperti biasanya, karena kita sudah tanya ke anggota kita, tidak ada seperti itu.

Kalau misalnya sifatnya di sana [China] yang bilangnya ditunda, enggak ada sih sejauh ini," ungkap Gita.

>>> Kemendag Kaji Rencana Tarif Impor Tambahan 10 Persen dari AS

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume pengiriman batu bara Indonesia pada Januari hingga April 2026 mencapai 114,54 juta ton.

Angka ini turun 6,7% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 122,76 juta ton.

Secara nilai, ekspor batu bara menyusut 7,27% secara tahunan menjadi US$7,57 miliar dari sebelumnya US$8,17 miliar.

Negara tujuan terbesar meliputi India, China, dan Jepang.

Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini merinci nilai ekspor batu bara pada Januari 2026 sebesar US$1,82 miliar, Februari US$1,66 miliar, Maret US$2,03 miliar, dan April US$2,1 miliar.

Total produksi batu bara nasional hingga April 2026 tercatat 229 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 38,2% dari target kuota tahunan sekitar 600 juta ton.

Dari total produksi, sekitar 84 juta ton dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pasok pasar domestik (DMO), sedangkan sisanya diekspor.

>>> Menkes Soroti Harga Obat Hepatitis di Indonesia Enam Kali Lipat Lebih Mahal

"Untuk realisasi [hingga April] 2026 ini pada saat ini adalah sebesar 229 juta ton dengan DMO 84 juta ton dan sisanya dilakukan ekspor atau sekitar 145 juta ton," kata Tri dalam RDP di Komisi XII DPR, Selasa (19/5/2026).

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru