⌂ Beranda News Rupiah Tembus Rp18.045, Pasar Antisipasi Suku Bunga BI

Rupiah Tembus Rp18.045, Pasar Antisipasi Suku Bunga BI

Rupiah Tembus Rp18.045, Pasar Antisipasi Suku Bunga BI
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menurun
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level psikologis baru hingga mencapai Rp18.045 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 12.30 WIB.

Kejatuhan mata uang Garuda ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan segera mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif.

>>> ATSI Desak Insentif Frekuensi Meski Komdigi Terapkan Skema Flat

Kemerosotan tajam ini mengakibatkan pelemahan kumulatif rupiah sebesar 7,08 persen sepanjang tahun berjalan sejak awal tahun hingga kuartal II-2026.

Kondisi tersebut mendorong para ekonom memprediksi kenaikan lanjutan BI Rate guna meredam volatilitas.

Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi menilai jebolnya angka psikologis tersebut dapat memicu respons kebijakan yang signifikan dari bank sentral.

Kenaikan BI Rate sebesar 50 hingga 70 basis poin diproyeksikan dapat terjadi akibat pergerakan liar mata uang domestik.

Di sisi lain, proyeksi pengetatan juga datang dari lembaga keuangan internasional yang melihat adanya tekanan berkelanjutan.

>>> Kebijakan Ekspor Satu Pintu Danantara Tunda Impor Batu Bara China

Ekonom UBS Grace Lim memperkirakan otoritas moneter akan mengerek suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada Juni dan Agustus mendatang.

"Yakni ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan fiskal, serta volatilitas arus modal asing," kata Lim dalam catatannya.

Proyeksi serupa mengenai langkah intervensi bank sentral turut disampaikan oleh lembaga keuangan global lainnya yang mengamati pergerakan pasar sekuritas di Indonesia.

Analis strategi dari BNP Paribas mengutarakan pandangannya mengenai batas krusial yang saat ini menjadi perhatian utama investor.

"Level Rp18.000/US$ menjadi titik psikologis yang sangat diperhatikan pasar," katanya seperti dikutip Bloomberg News.

>>> Kenali Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta Beserta Tips Memilihnya

Dampak kejatuhan nilai tukar ini langsung terasa pada pasar modal dengan terjadinya aksi jual masif oleh pemodal internasional.

Berdasarkan data kompilasi Bloomberg, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp993,29 miliar di seluruh pasar saham, dengan Rp864,07 miliar di antaranya berasal dari pasar reguler.

Tekanan berat ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal berupa geopolitik global dan empat sentimen domestik utama.

Faktor internal tersebut meliputi peringkat kredit prospek negatif Baa2 untuk PT Danantara Investment Management oleh Moody's Ratings, serta menyusutnya surplus neraca perdagangan April 2026 menjadi hanya US$89,1 juta.

Ketidakpastian arah kebijakan fiskal akibat program populis seperti Makan Bergizi Gratis dan subsidi BBM di tengah lonjakan harga minyak ikut memperburuk keadaan.

>>> Arab Saudi Buka Kembali Musim Umrah 1448 H untuk Jemaah Internasional

Kondisi ini diperparah oleh peringatan penurunan status Indonesia ke pasar frontier serta revisi prospek surat utang oleh Fitch Ratings dan Moody's.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru