⌂ Beranda News Inflasi Indonesia Mei 2026 Melonjak Jadi 3,08 Persen, Dipicu Pangan dan Energi

Inflasi Indonesia Mei 2026 Melonjak Jadi 3,08 Persen, Dipicu Pangan dan Energi

Inflasi Indonesia Mei 2026 Melonjak Jadi 3,08 Persen, Dipicu Pangan dan Energi
Grafik inflasi Indonesia Mei 2026
A A Ukuran Teks16px

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 naik 0,28% secara bulanan.

Lonjakan ini mendorong inflasi tahunan menjadi 3,08%, lebih tinggi dibandingkan posisi April yang sebesar 2,42%.

>>> 9 Jenis Kendaraan Ini Dikenakan Pajak Hanya 0,5% Berdasarkan Perda DKI Jakarta

Kenaikan harga pangan serta biaya energi di tengah dinamika global dan faktor musiman menjadi pemicu utama.

Sektor makanan, minuman, dan tembakau (FBT) mendominasi dengan kontribusi 0,12 poin persentase terhadap inflasi bulanan.

Faktor Pemicu Inflasi

Harga cabai merah melonjak hingga sekitar 48% secara bulanan akibat penurunan produksi di sentra tani dan tingginya permintaan menjelang Idul Adha.

Sektor transportasi turut menyumbang tekanan sebesar 0,07 poin persentase, dipengaruhi kenaikan harga energi global akibat ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS–Iran.

Efek domino dari konflik tersebut mendorong kenaikan harga bahan bakar, avtur, solar, dan ongkos logistik.

Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penahan laju inflasi dengan kontribusi deflasi -0,05 poin persentase, didorong koreksi harga emas sekitar -2,7% secara bulanan.

>>> Pendaftaran SPMB Jateng 2026 Dibuka Mulai Juni, Ini Panduan Akun dan Aktivasi

Secara tahunan, kelompok FBT menjadi motor utama inflasi dengan sumbangan 1,43 poin persentase, didorong komoditas ikan, cabai merah, dan ayam ras.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai tekanan inflasi masih didominasi faktor pangan dan energi serta pengaruh musiman.

"Inflasi masih banyak dipengaruhi oleh harga pangan yang volatil serta dampak dari penyesuaian harga energi global.

Di sisi lain, program bantuan sosial dan peningkatan konsumsi juga ikut mendorong permintaan terhadap komoditas utama," ujar Jessica.

Ia menambahkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut memperkuat permintaan bahan pangan seiring lonjakan penerima manfaat yang mencapai hampir 62 juta orang pada April 2026.

Sementara itu, inflasi inti tanpa komponen emas naik menjadi 1,61% secara tahunan pada Mei 2026, dari 1,34% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan ini dipengaruhi biaya pendidikan menjelang tahun ajaran baru, tarif sewa rumah perkotaan, dan pemulihan konsumsi pasca-Ramadan lewat penjualan mobil.

>>> Cara Cek Bansos PKH 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP

Meskipun terjadi pemulihan, perbaikan konsumsi rumah tangga belum merata.

Data penjualan ritel masih menunjukkan kontraksi sebesar 1,9% secara tahunan pada April 2026, yang mengindikasikan konsumen cenderung lebih waspada.

Porsi pengeluaran untuk konsumsi turun menjadi 72%, sedangkan porsi tabungan menanjak ke angka 18,2%.

Menurut Jessica, situasi ini memperlihatkan bahwa pemulihan ekonomi domestik belum sepenuhnya solid. "Kita melihat adanya perbaikan di beberapa indikator, tetapi belum cukup untuk mendorong konsumsi secara luas.

Konsumen masih selektif dalam membelanjakan pendapatan mereka," ujarnya.

Ke depan, pergerakan inflasi diperkirakan masih dibayangi faktor cuaca, harga pangan dunia, serta ketidakpastian geopolitik global.

>>> OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Akibat Konflik AS-Iran

Faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat narasi inflasi yang lebih tinggi dalam jangka panjang dan menjadi fokus perhatian kebijakan moneter Bank Indonesia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru