Pemerintah Iran menegaskan rencana pengambilalihan kendali penuh melalui nasionalisasi Selat Hormuz pada Rabu (3/6/2026).
Langkah sepihak ini langsung memicu ketegangan baru di kawasan Teluk Persia dengan Amerika Serikat.
>>> PLN Pasok Listrik 1,2 Gigawatt untuk Pusat Data BDx Indonesia
Rencana penataan ulang regulasi selat tersebut dilansir dari Investor Daily.
Otoritas Iran kini tengah menjajaki mekanisme kerja sama dengan Oman untuk mengatur lalu lintas kapal komersial serta menerapkan bea lintas perairan.
Perbandingan dengan Nasionalisasi Minyak
Ketegangan geopolitik meningkat setelah perwakilan parlemen Iran menyamakan kebijakan ini dengan momen sejarah penting industri minyak mereka. "Dahulu, sejarah mencatat signifikansi keputusan nasionalisasi minyak.
>>> SKK Migas Kejar Target Lifting Minyak 610 Ribu BOPD di 2026
Hari ini, kami ingin menasionalisasikan Selat Hormuz," ujar Abbas Goudarzi, Juru bicara presidium Parlemen Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita ISNA.
Menanggapi hal itu, Pemerintah Amerika Serikat berulang kali mendesak Teheran agar tetap menjaga Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran bebas tanpa pungutan biaya.
>>> Jungkook BTS Ancam Bongkar Identitas Sasaeng yang Kepung Rumahnya
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent telah memberikan peringatan keras kepada Oman agar tidak memfasilitasi penarikan bea lintas tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan ancaman serupa terhadap Oman jika ikut serta membantu langkah Iran.
Selat Hormuz merupakan titik kunci bagi distribusi energi global. Jalur ini menyalurkan sekitar 20% hingga 30% konsumsi minyak mentah dunia setiap hari.
>>> PBB Peringatkan Dampak El Nino Bakal Lebih Parah, Dunia Diminta Siaga
Gangguan pada jalur ini dipastikan berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas industri dan ketidakstabilan pasokan energi internasional.