⌂ Beranda News PBB Peringatkan Dampak El Nino Bakal Lebih Parah, Dunia Diminta Siaga

PBB Peringatkan Dampak El Nino Bakal Lebih Parah, Dunia Diminta Siaga

PBB Peringatkan Dampak El Nino Bakal Lebih Parah, Dunia Diminta Siaga
Ilustrasi fenomena El Nino yang memicu cuaca ekstrem
A A Ukuran Teks16px

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat global untuk bersiap menghadapi kembalinya fenomena El Nino dalam waktu dekat.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan pola cuaca yang menaikkan suhu global ini memiliki peluang 80 persen terbentuk sebelum September.

>>> Motorola Edge (2026) Resmi: Layar OLED 1,5K, Chip Dimensity 7450, dan Tahan Benturan

Probabilitas tersebut meningkat hingga 90 persen sebelum November.

Mayoritas model proyeksi menunjukkan fenomena ini setidaknya berkekuatan sedang, bahkan berpotensi kuat. Meski begitu, WMO masih menganggap prediksi kekuatan El Nino berada dalam rentang ketidakpastian.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan sebaran model cukup besar. Ada model yang tidak menunjukkan tanda-tanda El Nino kuat, sementara lainnya justru sebaliknya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menekankan situasi iklim global saat ini sangat mendesak. Ia meminta dunia memperlakukan peringatan ini sebagai alarm iklim.

Guterres mengatakan El Nino akan memperparah pemanasan global. Dampaknya akan lebih parah, jangkauannya lebih luas, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan menghancurkan.

Fenomena El Nino serupa pada 2023-2024 menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Kondisi itu memicu lonjakan suhu global yang memecahkan rekor terpanas pada 2024.

WMO memproyeksikan suhu sangat tinggi akan melanda hampir seluruh bumi selama tiga bulan ke depan. Lembaga itu juga memperingatkan peningkatan risiko kekeringan dan curah hujan ekstrem.

Secara umum, El Nino membawa curah hujan lebih deras di Amerika Serikat bagian selatan, beberapa kawasan Amerika Selatan, Tanduk Afrika, hingga Asia Tengah.

>>> Nilam Onasis Sahputri Promosikan Kekayaan Budaya Kalimantan Utara ke Dunia

Sebaliknya, kondisi kering mendominasi Indonesia, Australia, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, dan Asia Selatan.

Peningkatan suhu perairan juga dapat memicu pertumbuhan badai di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Namun, kondisi ini sekaligus menghambat pembentukan badai di cekungan Atlantik.

Sebelumnya, kawasan Eropa Barat telah melewati bulan Mei dengan suhu sangat panas hingga memecahkan rekor bulanan di Inggris dan Irlandia.

WMO bersama Badan Meteorologi Inggris memperingatkan tahun terpanas dalam sejarah dipastikan terjadi sebelum akhir dekade ini.

Ancaman Ketahanan Pangan dan Krisis Bantuan

Gareth Redmond-King dari Energy & Climate Intelligence Unit menyatakan situasi ini menjadi kabar buruk bagi sektor pangan global.

Pasokan komoditas pertanian saat ini sudah tertekan akibat perubahan iklim dan pembatasan aliran pupuk akibat perang Iran.

Ia mengatakan kerusakan yang ditimbulkan El Nino akan sangat menghancurkan banyak petani. Hal itu menjadi masalah hidup atau mati bagi banyak orang.

Secara ilmiah, El Nino berulang setiap beberapa tahun dengan durasi sembilan hingga 12 bulan.

Siklus bermula ketika angin pasat yang mendorong air hangat ke arah barat melemah atau berbalik arah, sehingga permukaan Pasifik memanas.

>>> Konflik Iran Picu Kekhawatiran Inflasi Berkepanjangan di Zona Euro

Indikator suhu permukaan laut di sebagian Pasifik telah mendekati ambang batas El Nino sejak akhir April hingga pertengahan Mei.

Kondisi ini dipicu kehangatan bawah permukaan laut yang tidak biasa beserta komponen atmosfer yang selaras.

WMO secara resmi menolak penggunaan istilah "super El Nino" karena frasa tersebut tidak masuk dalam sistem klasifikasi resmi mereka.

Di sisi lain, sistem peringatan dini diakui telah menyelamatkan banyak nyawa dari ancaman bencana iklim.

Namun, kendala baru muncul setelah donor asing utama seperti Inggris dan Amerika Serikat melakukan pemotongan anggaran bantuan kemanusiaan dalam setahun terakhir.

Celeste Saulo mengatakan pendanaan iklim belum mencapai puncaknya, tetapi sistem peringatan dini telah dan tetap menjadi prioritas.

Ia menambahkan masih dibutuhkan mobilisasi sumber daya yang lebih besar, terutama untuk mendanai negara-negara yang membutuhkan dukungan.

Antonio Guterres menegaskan satu-satunya respons efektif adalah aksi iklim yang setara dengan krisis ini.

>>> 10 Mobil Keluarga di Bawah 50 Juta Minim Masalah

Hal itu mencakup mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi yang paling rentan, dan menyediakan sistem peringatan dini bagi semua.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru