Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot hingga 30 persen sepanjang tahun 2026. Penurunan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran defisit fiskal.
Pelemahan nilai tukar rupiah turut memperparah kondisi pasar modal Indonesia. Pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, rupiah melemah 7 persen secara point-to-point terhadap dolar AS.
>>> Meksiko Taklukkan Afrika Selatan 2-0 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
IHSG kini berada pada posisi terlemahnya sejak tahun 2020.
Sentimen negatif juga menekan sejumlah bursa Asia lainnya, seperti SENSEX India, Hang Seng Hong Kong, dan PSEI Filipina.
>>> PT Daya Intiguna Yasa Tbk Bagikan Dividen Perdana Rp452 Miliar
Bursa Regional Lainnya Masih Bertahan
Meski beberapa indeks Asia tertekan, sejumlah bursa regional justru mencatat penguatan sepanjang 2026. Indeks tersebut antara lain KOSPI Korea Selatan, NIKKEI 225 Jepang, dan Shanghai Composite China.
Selain itu, TW Weighted Index Taiwan, SETI Thailand, Straits Times Singapura, Ho Chi Minh Stock Index Vietnam, dan KLCI Malaysia juga masih mampu bertahan di zona hijau.
Penurunan tajam IHSG memicu pertanyaan tentang kewajaran valuasi saham domestik.
>>> DPR dan Pemerintah Sepakati Penggunaan Saldo Anggaran Lebih Harus Berizin
Berdasarkan data Bloomberg per 12 Juni 2026, Price Book Value (PBV) IHSG berada di level 1,55 kali.
Sementara itu, perkiraan Price Earning Ratio (PER) tercatat di angka 9,21 kali.
>>> Prabowo: Rakyat Susah karena Rancang Bangun Ekonomi Diabaikan
Jika dibandingkan dengan bursa Asia lainnya, valuasi pasar ekuitas Indonesia saat ini tergolong murah atau undervalued.