Pada 2026, potensi penerimaan berkisar Rp7,52 triliun hingga Rp30 triliun tergantung instrumen yang dipilih.
>>> Huawei Resmi Luncurkan nova 16 Ultra dengan Baterai 7.000 mAh dan Kamera 200MP
Proyeksi ini terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital. Pada 2030, skenario WHT 1 persen berpotensi menghasilkan Rp37,42 triliun.
“WHT 3 persen mencapai Rp112,27 triliun, sementara skema USO 0,75 persen bisa menyumbang Rp28,07 triliun dengan earmarking langsung untuk pembangunan infrastruktur TIK,” kata Jaya.
Dyah Ayu, Peneliti Ekonomi CELIOS, menjelaskan bahwa CELIOS merekomendasikan enam paket kebijakan yang harus segera dijalankan secara simultan.
“Yang paling mendesak adalah penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola OTT yang mewajibkan platform asing mendaftar sebagai Badan Usaha Tetap Digital, dengan ambang Significant Economic Presence berbasis jumlah pengguna, volume transaksi, atau pendapatan iklan,” kata Ayu.
Bersamaan dengan itu, lanjut Ayu, pemerintah harus segera menerapkan Withholding Tax minimal 1% atas gross revenue platform OTT global.
Dia mengatakan mekanismenya sudah ada, platform pembayaran dan bank bisa menjadi withholding agent yang terintegrasi dengan sistem yang sudah eksis.
“Ini bukan hal yang rumit secara teknis, ini soal keberanian politik untuk melakukannya,” tegasnya.
Untuk USO Digital, CELIOS mengusulkan perluasan subjek pungutan dari operator telekomunikasi domestik ke platform OTT asing dengan tarif 0,75% dari pendapatan bruto.
“Dana ini harus di-earmark secara khusus untuk pembangunan infrastruktur data nasional, kecerdasan buatan, dan konektivitas 5G di wilayah 3T.
>>> Tips Jaga Keharmonisan Asmara Berdasarkan Zodiak, dari Kejujuran hingga Dialog
Selain itu, dana ini bisa digunakan untuk ekosistem ekonomi kreatif yang menjadi penopang ekosistem ekonomi digital di Indonesia,” kata Ayu.