Goldman Sachs Group Inc memproyeksikan harga minyak mentah Brent berpotensi turun hingga US$10 per barel pada kuartal keempat dari perkiraan awal sebesar US$90 per barel.
Risiko penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan global yang bersaing dengan penyusutan pasokan dari Timur Tengah.
>>> Desa Adat Intaran Apresiasi Pembangunan Kios UMKM oleh éL Hotel Bali
Ketegangan geopolitik, terutama perang di Iran, menjadi pemicu utama berkurangnya pasokan minyak.
Data penjualan minyak pada April dari China dan Eropa Barat menunjukkan penurunan risiko sekitar 2 juta barel per hari.
Angka ini berada di bawah estimasi permintaan Goldman Sachs yang sebelumnya sudah rendah untuk bulan tersebut.
>>> Presiden Hungaria Tamas Sulyok Tolak Desakan Mundur dari PM Peter Magyar
Dalam catatan tertulis para ekonom Goldman Sachs, termasuk Daan Struyven, disebutkan bahwa situasi ini menambah risiko penurunan harga minyak global.
Pasar minyak dunia saat ini terguncang akibat dampak perang Iran.
Pengiriman minyak dari produsen Teluk Persia melalui Selat Hormuz dilaporkan menyusut drastis, yang berujung pada penghentian produksi jutaan barel minyak.
>>> Rupiah Menguat terhadap Mayoritas Mata Uang Global pada 1 Juni 2026
Harga minyak mentah acuan Brent telah melonjak lebih dari seperempat sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Lonjakan harga ini memicu penurunan konsumsi, terutama pada bahan bakar jet dan bahan baku petrokimia.
"Kami melihat adanya risiko kenaikan harga yang signifikan akibat potensi hilangnya pasokan Timur Tengah dalam jangka panjang, tetapi di sisi lain terdapat juga risiko penurunan harga yang berarti akibat melemahnya permintaan," ujar para analis Goldman Sachs.
>>> Wisatawan Padati Kota Tua Jakarta Barat, Tembus 31 Ribu Pengunjung
Mereka menambahkan bahwa permintaan riil minyak dari pengguna akhir kemungkinan telah turun lebih dalam sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi dari perkiraan.