⌂ Beranda News Aspermigas: Ruang Penurunan Harga Pertamax Terbuka Lebar

Aspermigas: Ruang Penurunan Harga Pertamax Terbuka Lebar

Aspermigas: Ruang Penurunan Harga Pertamax Terbuka Lebar
Papan harga BBM Pertamax di SPBU Pertamina
A A Ukuran Teks16px

Peluang penurunan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax dinilai terbuka lebar.

Hal ini menyusul merosotnya harga minyak mentah dunia akibat rencana perdamaian Amerika Serikat dan Iran, Kamis (18/6/2026).

>>> Tamara Tyasmara Nilai Vonis 20 Tahun Yudha Arfandi Belum Setimpal

Harga minyak mentah dunia saat ini telah berada di bawah US$80 per barel. Sebelumnya, harga sempat menembus angka US$100 per barel.

Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menilai fluktuasi komoditas energi global menuntut kepekaan penyesuaian harga di tingkat domestik secara cepat.

"Nah sekarang sudah enggak ada alasan lagi untuk harga naik, kita lihat ya Pertamina sekarang dituntut untuk turun dong, lah harga minyak sudah turun.

Nah sekarang enggak ada alasan lagi untuk naik," kata Moshe ketika dihubungi, Kamis (18/6/2026).

Ketidakpastian regulasi domestik membuat penyesuaian harga sulit diprediksi pelaku pasar. Keterlibatan penuh keputusan politik pemerintah menjadi faktor utama.

"Jadi kalau pemerintah bilang jangan dinaikkan atau jangan diturunkan ya enggak bakal dinaikkan atau diturunkan gitu kan. Jadi itu semua enggak bisa kita prediksi," tegas Moshe.

>>> IHSG Ambles ke Level 6.154 pada Sesi I Kamis 18 Juni 2026

Apresiasi dan Beban Pertamina

Kebijakan menahan harga jenis Pertalite dan Solar diapresiasi oleh asosiasi. Namun, di sisi lain kebijakan itu menimbulkan beban tersendiri bagi pihak penyalur resmi negara.

"Saya juga terus terang saya juga apresiasi dan di satu sisi saya juga kasihan sama Pertamina. Kenapa?

Karena keuangan mereka juga tergerus gitu lho dengan ditahan-tahan terus dan lain sebagainya," ungkap dia.

Gangguan pelayaran di Timur Tengah ikut memperparah kondisi operasional logistik energi nasional sebelum pakta perdamaian tercapai.

"Jadi mereka juga terdampak dari Selat Hormuz, beberapa kapal mereka juga sempat ditahan di sana dan lain sebagainya, itu kan jadi tekanan juga ke keuangannya Pertamina dan juga satu sisi fiskal Indonesia gitu lho.

Ini yang sangat disayangkan," lanjut dia.

Sebelumnya, harga keekonomian riil dari bahan bakar komersial tersebut dilaporkan telah melampaui angka jual yang ditetapkan oleh pihak korporasi.

>>> Prodia Diagnostic Line Alokasikan Dana IPO untuk Pelunasan Utang

"Ya, kurang lebih begitu kalau range harganya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter]," kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

Pemerintah berencana memberikan dana talangan terhadap selisih nilai jual komersial guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

"Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan," tegas dia.

Langkah penyesuaian tarif jual BBM nonsubsidi di SPBU juga turut diimbangi oleh langkah serupa dari sejumlah korporasi penyalur swasta nasional.

"Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional," kata Simon dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026) malam.

Penurunan harga WTI untuk pengiriman Juli tercatat merosot 1% ke level US$76,02 per barel di pasar Singapura.

>>> DPR Usul Motor Listrik Badan Gizi Nasional Dijual karena Mubazir

Sementara minyak Brent ditutup pada posisi US$79,55 per barel.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru