Sejumlah analis dan peneliti melihat adanya ruang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam waktu dekat.
Hal ini didorong oleh rerata harga minyak mentah dunia yang mulai melandai di sekitar US$92 per barel.
>>> Menkeu Targetkan PT Danantara Dongkrak Penerimaan Negara Lewat Penataan Ekspor
Analis komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa harga minyak mentah telah menjauh dari level US$100 per barel.
Penurunan hampir 10% ini membuka peluang penurunan harga BBM nonsubsidi sekitar 6% atau Rp1.200 per liter.
"Idealnya, dengan penurunan harga minyak dunia kurang lebih 10% dan kontribusi sebesar 60%–65% pada harga BBM, harga Pertamax Turbo bisa turun sekitar 6% atau Rp1.200 secara kalkulasi langsung," kata Lukman saat dihubungi, Minggu (31/5/2026).
Dengan potensi penurunan tersebut, harga Pertamax Turbo (RON 98) diperkirakan turun menjadi Rp18.700 per liter dari harga saat ini Rp19.900 per liter.
Sementara itu, nilai keekonomian Pertamax (RON 92) diprediksi sekitar Rp17.000 per liter.
Potensi Kenaikan Masih Ada
Di sisi lain, peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, memperkirakan harga BBM nonsubsidi masih berpotensi naik.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa membuat harga keekonomian BBM lebih tinggi meskipun harga minyak melandai.
Dengan asumsi harga minyak mentah di sekitar US$92 per barel dan rupiah hampir Rp17.900 per dolar AS, Badiul meramal harga Pertamax Turbo pada Juni 2026 berada di kisaran Rp18.700 hingga Rp21.300 per liter.
Jika harga minyak terus turun dan rupiah menguat, harga bisa turun terbatas ke Rp18.500–Rp19.000 per liter.
Untuk Pertamax, Badiul memperkirakan harga keekonomiannya saat ini sekitar Rp15.500–Rp17.200 per liter.
"Mengacu kondisi saat ini, terdapat potensi gap antara harga jual aktual dan harga keekonomian sekitar Rp2.000–Rp3.500 per liter tergantung asumsi kurs dan harga minyak harian," ungkapnya.
>>> Masyarakat Diminta Rombak Strategi Keuangan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Faktor Geopolitik dan Pasar Minyak
Harga minyak mentah dunia turun ke level terendah enam pekan setelah AS dan Iran secara tentatif sepakat memperpanjang gencatan senjata.
Kesepakatan ini memicu optimisme bahwa Selat Hormuz mungkin segera dibuka kembali.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% menjadi sekitar US$87 per barel, sementara patokan global Brent berada di dekat US$92 per barel.
Presiden Donald Trump mengatakan akan membuat "keputusan akhir" tentang kesepakatan awal tersebut.
Meskipun ada optimisme, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan belum ada kesepahaman akhir yang tercapai. Pertukaran pesan antara Iran dan AS terus berlanjut, kata juru bicara Esmail Baghaei.
Beberapa kapal yang melintas di Selat Hormuz telah diserang dalam beberapa hari terakhir. CEO Chevron Corp.