⌂ Beranda News Harga Beras Asia Alami Lonjakan Bulanan Tertinggi dalam 18 Tahun

Harga Beras Asia Alami Lonjakan Bulanan Tertinggi dalam 18 Tahun

Harga Beras Asia Alami Lonjakan Bulanan Tertinggi dalam 18 Tahun
Sawah padi di Asia yang mengering akibat cuaca ekstrem
A A Ukuran Teks16px

Harga beras di pasar Asia mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam hampir dua dekade pada Mei 2026.

Lonjakan ini dipicu oleh ancaman cuaca ekstrem serta pembengkakan biaya energi dan pupuk yang mengganggu sektor pertanian.

>>> Persib Bandung Pastikan Sanksi FIFA Tidak Ganggu Aktivitas Klub

Data menunjukkan harga beras putih Thailand, yang menjadi patokan kawasan Asia, melonjak 20 persen sepanjang bulan ini. Angka tersebut merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 2008.

Sementara itu, kontrak berjangka komoditas serupa di Chicago Board of Trade juga mengalami kenaikan hingga 15 persen.

Kenaikan harga ini diprediksi masih akan berlanjut akibat berbagai faktor risiko global yang menekan produktivitas pertanian.

Faktor Pemicu Lonjakan Harga

Analis komoditas di BMI, unit Fitch Solutions, Bin Hui Ong, menyatakan bahwa harga akan terus cenderung naik.

BMI telah menaikkan estimasi kontrak berjangka di Chicago pada awal bulan ini.

Peristiwa El Niño yang diperkirakan terjadi dapat membawa cuaca lebih panas dan kering ke sebagian wilayah Asia, memberikan potensi kenaikan lebih lanjut.

>>> Max Muncy Ungkap Strategi Dodgers Pukul Empat Home Run

Tekanan produksi kian berat setelah jalur perdagangan Selat Hormuz ditutup hampir sepenuhnya, memicu kelangkaan serta lonjakan harga bahan bakar dan pupuk impor.

Kondisi operasional yang kian mahal memaksa sejumlah petani di Thailand, Vietnam, dan India menunda jadwal cocok tanam.

Seorang petani asal Provinsi Vinh Long, Vietnam selatan, Tran Van Be Bay, mengatakan bahwa dengan biaya yang terus naik dan cuaca sangat panas, ini bukan waktu yang tepat untuk menanam tanaman baru.

Ia menambahkan bahwa metode pertanian saat ini menjadi sangat dilematis di tengah ketidakpastian cuaca global. Menggunakan lebih banyak pupuk tidak hanya lebih mahal, tetapi juga merusak tanaman.

Berdasarkan data Institut Penelitian Beras Internasional, harga pupuk berbasis nitrogen di Filipina, Kamboja, dan Thailand telah melonjak 40 hingga 50 persen sejak pecahnya perang pada Februari lalu.

>>> Empat Daerah di Sumatera Barat Pertahankan Opini WTP LKPD 2025

Tingginya biaya operasional berdampak langsung pada mesin pompa irigasi sawah yang mayoritas masih bergantung pada pasokan bahan bakar diesel.

Kekurangan pasokan pupuk diproyeksikan akan segera terjadi jika jalur perdagangan internasional tidak kunjung pulih.

Meskipun cadangan domestik di beberapa negara masih mencukupi untuk periode Maret hingga Mei, ilmuwan senior bidang analisis kebijakan dan perubahan iklim di institut tersebut, Alisher Mirzabaev, memperingatkan bahwa kekurangan pasokan dapat segera muncul kecuali perdagangan pupuk kembali normal.

Ancaman penurunan total produksi pertanian di Asia dipastikan akan menggoyang stabilitas pasokan pangan global.

Filipina memproyeksikan bahwa fenomena cuaca El Niño kuat berpotensi menggerus output padi sawah hingga 700.000 ton, atau setara dengan 3,5 persen dari target tahunan.

Meskipun demikian, pergerakan harga di pasar internasional diprediksi tidak akan melonjak tanpa kendali.

>>> Cara Cek Desil DTSEN dan Status Penerima Bansos Kemensos 2026

Analis pasar di International Grains Council, Peter Clubb, mengatakan bahwa kenaikan harga mungkin akan tertahan berkat stok beras yang melimpah, terutama di India sebagai produsen utama, serta permintaan global yang relatif lemah.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru