Bursa saham Amerika Serikat melonjak hingga mencetak rekor tertinggi baru pada Kamis, 28 Mei 2026.
Pergerakan ini didorong oleh pertumbuhan laba kuartalan emiten yang kuat dan laporan kesepakatan tentatif perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.
>>> Petugas Lapas Sragen Gagalkan Penyelundupan Narkoba di Celana Dalam
Indeks S&P 500 meningkat 0,58 persen ke level rekor 7.563,63.
Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 0,91 persen ke posisi 26.917,47 setelah ditopang oleh reli sektor teknologi.
Dow Jones Industrial Average naik tipis sebesar 0,05 persen menjadi 50.668,97. Ketiga indeks utama tersebut berhasil membukukan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.
Faktor Pendorong Kenaikan
Kenaikan pasar saham semakin menguat setelah Axios melaporkan bahwa negosiator AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Perjanjian tersebut mencakup jaminan pelayaran tanpa batas di Selat Hormuz dengan syarat Iran harus membersihkan semua ranjau di jalur air tersebut dalam waktu 30 hari.
Kendati demikian, kesepakatan diplomatik ini masih memerlukan persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump. Trump saat ini dilaporkan belum memberikan keputusan resminya.
>>> 5 Koleksi Mario Minardi Terfavorit untuk Wishlist Fashion
Sektor korporasi menjadi motor penggerak utama Wall Street berkat realisasi keuntungan yang melampaui estimasi pasar pada kuartal pertama 2026.
Saham Snowflake melonjak 36,5 persen menyusul prospek pendapatan yang kuat dari perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI) serta rencana pengeluaran sebesar 6 miliar dolar AS untuk Amazon Web Services selama lima tahun ke depan.
Saham peritel Dollar Tree melonjak 17,9 persen, disusul oleh lonjakan saham Kohl's sebesar 20,6 persen, Best Buy naik 15,8 persen, dan Hormel Foods naik 12,5 persen setelah mencatatkan kinerja keuangan yang solid.
Kenaikan ini terjadi di tengah rilis data inflasi indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan April yang naik 0,4 persen secara bulanan, sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 0,5 persen.
Penurunan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ke level 88,90 dolar AS per barel setelah laporan gencatan senjata juga ikut meredakan tekanan inflasi di pasar obligasi, menyebabkan imbal hasil Treasury 10-tahun turun menjadi 4,45 persen.
>>> Trakindo Luncurkan Program HEALS untuk Cegah Stunting dan Malnutrisi
Pihak analis menilai pergerakan positif ini sebagai reaksi awal terhadap perkembangan geopolitik global. David Wagner, kepala ekuitas di Aptus Capital Advisors, mengatakan bahwa pasar telah mengantisipasi adanya MoU.
Wagner menambahkan bahwa sektor diskresioner akan bergerak cepat sebagai reaksi spontan pertama terhadap berita tersebut, yang pada akhirnya mampu mendorong pasar ke posisi yang lebih tinggi.
Meskipun pasar saham mencatatkan rekor baru, sentimen investor individu terpantau masih didominasi oleh kecenderungan bearish.
Rob Ginsberg, analis Wolfe Research, menulis bahwa dari perspektif teknis murni, jika harus memilih, uang mereka ada pada Small Caps.
Ginsberg mencatat bahwa indeks Russell 2000 telah mengungguli S&P 500 sepanjang tahun ini dan posisinya belum jenuh beli (overbought), sehingga target level 3.000 berpotensi besar untuk dicapai.
Di pasar luar negeri, pergerakan saham cenderung bervariasi dengan penurunan melanda sebagian besar indeks di Eropa dan Asia.
>>> CORE: Potensi Tambahan PHK 15,3-20,3 Ribu Pekerja di Kuartal II 2026
Indeks Hang Seng Hong Kong mencatat salah satu kerugian terbesar dengan merosot 1,3 persen.