Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan potensi tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja pada kuartal II 2026.
Tekanan terhadap dunia usaha meningkat akibat kenaikan biaya impor bahan baku, depresiasi rupiah, dan hambatan distribusi global karena konflik di Timur Tengah.
>>> Prabowo Ajak Perusahaan Prancis Tingkatkan Investasi di Indonesia
Sektor manufaktur menjadi yang paling rentan. CORE memproyeksikan PHK terbesar terjadi di sektor ini, mencapai 8,7-12,1 ribu pekerja.
Sektor jasa diperkirakan kehilangan 3,3-4,5 ribu pekerja, sementara sektor pertanian 3,3-3,6 ribu pekerja.
Estimasi tersebut dihitung menggunakan Tabel Input-Output 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS).
CORE menggunakan asumsi gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung 2-3 bulan ke depan dan nilai tukar rupiah melemah melebihi Rp 17.400 per dolar AS.
Dalam skenario sedang, perusahaan manufaktur dengan kenaikan harga bahan baku di atas 1,5% diperkirakan memangkas output sebesar 0,1%.
>>> Panduan Memilih MacBook yang Tepat Sesuai Kebutuhan dan Anggaran
Pada skenario buruk, pemangkasan output dapat mencapai 0,15% bagi perusahaan dengan kenaikan harga input produksi di atas 1,5%.
Perusahaan dengan kenaikan harga input di bawah 1,5% akan memangkas output 0,01% seperti skenario sedang.
CORE mengingatkan tambahan PHK berpotensi memperbesar jumlah pekerja informal di Indonesia.
Per Februari 2026, jumlah tenaga kerja informal mencapai 87,74 juta jiwa atau sekitar 59,42% dari total tenaga kerja aktif nasional.
>>> Dugaan Pelecehan Seksual Jerat Pendiri UNDERDAWG Indonesia
Kondisi ini menunjukkan rapuhnya pasar tenaga kerja formal Indonesia saat menghadapi tekanan eksternal.
Pertumbuhan tenaga kerja formal sepanjang 2021-2025 hanya 0,8%, jauh lebih rendah dibanding sektor informal yang tumbuh 3,2%.
Sepanjang 2022-2026, tambahan serapan tenaga kerja formal hanya mencapai 73% dari tambahan pekerja di sektor informal.
Jumlah angkatan kerja baru yang terserap sebagai pekerja pada Februari 2026 turun tajam menjadi hanya 38 ribu orang.
Angka itu merosot 86% dibandingkan rata-rata periode 2022-2025 maupun 2010-2019.
>>> Asisten Matthew Perry Divonis 41 Bulan Penjara karena Ketamin
CORE menilai faktor eksternal menjadi pemantik utama, namun data juga menunjukkan pasar tenaga kerja di Indonesia telah rapuh sejak lebih dari satu dekade terakhir.