Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian menekan kondisi industri nasional.
Situasi terkini dinilai bukan lagi sekadar ancaman PHK, melainkan sudah memasuki fase bertahan hidup atau survival mode.
>>> Dolar AS Menguat Tembus Rp 17.900, Rupiah Tertekan Faktor Global dan Domestik
Tekanan Berat dari Berbagai Faktor
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menjelaskan bahwa sektor industri saat ini menghadapi tekanan berat dari berbagai faktor sekaligus.
"Saat ini kita menghadapi perfect storm, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan suku bunga, cash flow shortage akibat restitusi tertahan dan tekanan karena konsolidasi regional atau global operation yang akan mengurangi operasi di beberapa negara (FDI outflow)," kata Bob.
Pelaku usaha kini berupaya keras mempertahankan operasional dengan memangkas biaya dan menggenjot efisiensi secara maksimal. Langkah ini diambil akibat beban usaha yang terus melonjak tajam.
Meskipun menanggung kenaikan biaya produksi yang besar, korporasi tidak dapat langsung menaikkan harga jual produk. Hal ini disebabkan oleh kondisi daya beli masyarakat yang juga sedang melemah.
Jika perusahaan nekat menaikkan harga produk, tingkat penjualan dipastikan akan mengalami penurunan drastis.
"Efisiensi dan produktivitas secara lebih radikal tidak terelakkan untuk bertahan dalam upaya meng-absorb semua kenaikan biaya as much as possible as we can," tambah Bob.
Dampak pada Sektor Tekstil
Dampak merosotnya nilai mata uang Garuda ini juga dirasakan langsung oleh sektor manufaktur spesifik.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil menyatakan bahwa pelemahan kurs berimbas langsung pada lonjakan harga bahan baku serta biaya produksi tekstil.
Salah satu komoditas impor dari Arab Saudi yang mengalami kenaikan harga adalah Mono Ethylene Glycol (MEG).
Selain itu, kombinasi depresiasi mata uang dan lonjakan harga minyak mentah dunia membuat harga polyester meningkat tajam.
>>> Meta Resmi Luncurkan Layanan Berlangganan Berbayar Facebook, Instagram, dan WhatsApp
Farhan memaparkan ketika harga minyak dunia melambung, harga bahan baku tersebut telah melonjak hampir 40%. Kondisi ini semakin memperberat tekanan yang dialami oleh pelaku industri.
Apabila diakumulasikan dengan pelemahan rupiah, estimasi total kenaikan biaya operasional diperkirakan dapat mencapai kisaran 10%. Dengan demikian, lonjakan biaya komponen produksi saja bisa menembus angka 50%.
"Iya, sekitar segitu. Itu jika di-kurs-kan ke dalam rupiah," ujar Farhan.
Masalah industri tekstil semakin pelik akibat derasnya arus barang impor yang membanjiri pasar domestik.
Farhan menilai fenomena ini telah memutuskan rantai pasok industri tekstil lokal sekaligus menjadi dampak jangka panjang dari deindustrialisasi.
"Rantai pasok industri tekstil sudah terputus dan menjadi dampak panjang dari deindustrialisasi yang terus terjadi di Indonesia.