Dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dan Thailand, kompak meningkatkan penerbitan utang jangka pendek.
Langkah strategis ini diambil guna mengatasi tekanan imbas perang AS-Iran yang menguras likuiditas di pasar secara luas.
>>> Kebijakan Ekspor SDA Satu Pintu Dorong Peran Strategis Negara
Bank Indonesia terus mendorong penerbitan surat utang rupiah demi menarik aliran modal asing.
Instrumen ini dioptimalkan untuk menopang nilai tukar rupiah yang sempat merosot ke level terendah sepanjang sejarah.
Di sisi lain, Pemerintah Thailand juga kian mengandalkan surat utang berjangka pendek. Kebijakan tersebut berjalan seiring dengan kelanjutan rencana pinjaman darurat yang sempat memicu kontroversi.
Kecenderungan memilih sekuritas bertenor pendek ini mencuat di tengah kekhawatiran inflasi akibat guncangan energi. Situasi tersebut memicu aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah bertenor panjang di tingkat global.
Para analis menilai pergeseran strategi ini memang memberikan fleksibilitas pendanaan yang lebih besar bagi Indonesia dan Thailand.
Kendati demikian, kebijakan tersebut juga menyimpan potensi risiko refinancing seiring berjalannya waktu.
"Sejalan dengan investor membeli instrumen utang jangka pendek ini, permintaan terhadap obligasi jangka panjang menurun hingga batas tertentu," kata Chandresh Jain, ahli strategi suku bunga dan valuta asing di BNP Paribas di Singapura.
Total surat utang rupiah Bank Indonesia yang beredar, atau dikenal sebagai SRBI, tercatat melonjak Rp126,7 triliun pada bulan lalu.
Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir.
>>> Indosat Mitigasi Risiko Pelemahan Rupiah dengan Kewajiban Mata Uang Lokal
Mata uang rupiah melemah sekitar 2% terhadap dolar AS pada April lalu. Performa tersebut menjadi yang terburuk sejak Oktober 2024.
Instrumen SRBI sendiri diketahui memiliki masa jangka waktu hingga 12 bulan.
Pada lelang terbaru tanggal 22 Mei, imbal hasil SRBI bertenor 12 bulan naik meroket ke angka 6,76%.
Nilai ini menjadi level tertinggi sejak Januari 2025.
Bahkan lebih tinggi dari imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 2 tahun yang berada di kisaran 6,53%.
"Kami berpendapat bahwa pasar saat ini lebih memilih untuk membeli SRBI daripada obligasi pemerintah Indonesia," kata Jain.
Jain menambahkan bahwa SRBI menawarkan tingkat imbal hasil yang serupa dengan obligasi pemerintah Indonesia.
Keunggulannya, instrumen ini tidak membuat investor terpapar risiko durasi yang signifikan. Sementara itu, Pemerintah Thailand tengah berupaya keras menanggulangi dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian domestik.
Ketegangan regional tersebut telah mengganggu sektor perdagangan dan pariwisata yang menjadi dua mesin utama ekonomi mereka. Kabinet Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bulan ini resmi menyetujui paket bantuan ekonomi.
>>> Kamila Andini Raih Penghargaan Women in Cinema Spotlight di Cannes 2026
Program yang mencakup bantuan tunai dan subsidi ini menjadi bagian dari rencana pinjaman krisis senilai 400 miliar baht.
Direktur Jenderal Kantor Manajemen Utang Publik Thailand, Jindarat Viriyataveekul, menyatakan bahwa pemerintah berencana mengumpulkan dana sekitar $5 miliar.
Pembiayaan untuk meringankan beban biaya hidup masyarakat ini diperoleh melalui kombinasi surat utang dan pinjaman jangka menengah.
Tim ahli strategi Citigroup Inc., termasuk Gordon Goh, memproyeksikan utang tambahan Thailand untuk tahun fiskal 2026 kemungkinan besar diperoleh lewat surat promes dan surat utang.
Berbagai instrumen jangka pendek ini diperkirakan bakal menggerus permintaan total terhadap obligasi pemerintah jangka panjang.
Berdasarkan data bank sentral yang dihimpun Bloomberg, jumlah surat utang Thailand yang beredar menyentuh 1,16 triliun baht pada akhir Maret.
Angka tersebut mendekati level tertinggi sejak awal periode 2023. Obligasi jangka panjang Thailand terus dilepas oleh investor akibat kecemasan fiskal dan laju inflasi.
Kondisi ini membuat selisih imbal hasil tenor 2 tahun dan 10 tahun naik menjadi sekitar 110 basis poin pada pekan lalu.
Selisih tersebut menjadi yang terlebar sejak November 2022.
>>> Syifa Hadju Hadiri CHANEL Métiers d'art 2026 di Seoul, Berfoto Bareng Ji Chang-wook
"Karena kurva obligasi Thailand curam, pemerintah ingin menjaga biaya bunga tetap rendah" dengan lebih mengandalkan instrumen jangka pendek seperti pinjaman berjangka dan surat promes, tambah Jain dari BNP.