Sistem tersebut terbentuk dari kata-kata manusia, tetapi di sisi lain tetap menyimpan misteri bagi para pelatihnya sendiri.
"And what has grown is far more subtle, odd, and beautiful than science fiction prepared us for," aku Olah.
Olah menganalogikan fenomena perkembangan AI saat ini menyerupai proses menghidupkan sebuah karakter fiksi. "They are not the cold, calculating robots we were promised," bantahnya.
Dunia kini sedang bersiap menghadapi era ketika karakter-karakter fiksi tersebut mulai berbicara dan mengambil alih pekerjaan manusia.
"They are made from us, from our words—and, as the Holy Father observes, they remain in important ways mysterious even to those of us who train them," aku Olah.
Oleh karena itu, penentuan karakter dan interaksi teknologi dengan dunia luar dinilai menjadi porsi pembahasan bagi ilmu humaniora, agama, filsafat, dan masyarakat luas.
"If it helps, one way I sometimes describe it is as being a little like bringing a fictional character to life," cetus Olah.
Olah kemudian mengajukan tiga pertanyaan krusial, dimulai dari kewajiban moral berskala historis untuk mendukung para pekerja global yang tergeser oleh AI.
"And now we're entering an extraordinary world where those fictional characters speak to us, do work, have jobs," papar Olah.
Tantangan yang lebih berat adalah fakta bahwa pengembangan AI tersentralisasi di negara-negara kaya, sehingga keuntungannya sulit terdistribusi merata secara global.
"This clearly raises questions beyond computer science," desak Olah.
>>> SKS Copack Tarik Puluhan Bubuk Minuman karena Kontaminasi Salmonella
Pertanyaan kedua berpusat pada imajinasi moral mengenai kesejahteraan keluarga dan dunia di tengah kekhawatiran para orang tua terkait masa depan anak-anak mereka.
"The machinery that makes this possible is the work of math and programming and science," urai Olah.
Laboratorium teknologi tidak memiliki jawaban atas hal tersebut, melainkan institusi tradisi keagamaan yang telah merawat nilai itu selama ribuan tahun.
"But what character we choose, how it interacts with the world, how it ought to interact with the world—these are more clearly questions for the humanities, for religion, for philosophy, for society at large," jabar Olah.
Pertanyaan ketiga berfokus pada struktur internal model AI yang menunjukkan adanya anomali menyerupai sistem saraf manusia, bukti introspeksi, hingga kondisi internal yang menyerupai emosi.
"His Holiness's call for discernment is profoundly timely," puji Olah.
Pihaknya mengaku terus menemukan struktur misterius yang memicu kedukaan, ketakutan, kepuasan, hingga kegembiraan dalam sistem AI tersebut.
"I wish to name three questions where I think the Church's voice is most needed," kata Olah.
Meski belum mengetahui implikasi pastinya, Olah meminta komunitas religius, sipil, dan pemerintah untuk ikut mengawal arah perkembangan teknologi ini agar tidak melenceng.