Microsoft Corp.
tetap menjual model kecerdasan buatan (AI) kepada perusahaan-perusahaan China di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
>>> Kaspersky: 21 Persen Komputer Industri di Indonesia Terancam Malware
ByteDance Ltd., induk TikTok, menjadi pelanggan AI terbesar Microsoft dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan yang berbasis di Beijing itu memanfaatkan model OpenAI melalui layanan cloud Azure.
ByteDance diperkirakan mengeluarkan lebih dari US$1 miliar per tahun untuk mengakses layanan AI dan cloud Microsoft, menurut sumber yang mengetahui masalah internal tersebut.
Selain ByteDance, Ant Group Co., Meituan, dan Tencent Holdings Ltd. juga menjadi pembeli besar model AI lewat platform Azure.
Kehadiran di China memberi Microsoft kesempatan mengamati inovasi lokal dan melayani klien multinasional. Namun, pasar China hanya menyumbang sekitar 1,5% dari total pendapatan Microsoft pada 2024.
Presiden Microsoft Brad Smith menyampaikan data kontribusi pendapatan tersebut dalam kesaksian di hadapan Kongres AS. Aktivitas komersial ini memicu perdebatan di kalangan pembuat kebijakan AS.
Anggota parlemen dan eksekutif teknologi AS menganggap pengembangan AI oleh China sebagai ancaman bagi industri domestik. Kekhawatiran meliputi potensi penyalahgunaan dan pencurian kekayaan intelektual.
Anthropic PBC dan OpenAI memilih tidak menjual model mereka langsung ke China. Microsoft dan OpenAI tidak memberikan komentar resmi mengenai situasi pasar ini.
Manajemen internal Microsoft justru menunjukkan sikap berbeda.
>>> Pertamina Patra Niaga Buka Peluang Penurunan Harga BBM Pertamax
Mantan Chief Commercial Officer Judson Althoff memuji pertumbuhan pesat teknologi AI Microsoft di China dalam rapat penjualan internal pada Juli 2025.
"Solusi AI paling elit di dunia sedang dibangun di pantai barat AS dan pantai timur China. Satu-satunya perusahaan yang menyatukan kedua tempat tersebut adalah Microsoft.
Ini sungguh luar biasa," kata Althoff dalam transkrip internal.
Pertumbuhan Omzet Azure dan Penggunaan Model
Pertumbuhan omzet AI Azure di China melaju lebih cepat dibandingkan wilayah lain.
Nilai penjualan melonjak sekitar tiga kali lipat pada tahun fiskal yang berakhir Juni 2025, setelah meningkat 400% pada tahun sebelumnya.
Kemitraan dengan OpenAI memberi Microsoft wewenang menetapkan kebijakan sendiri dalam memasarkan model seperti seri GPT di China. Model AI ditawarkan untuk pengembangan perangkat lunak hingga otomatisasi layanan konsumen.
Tencent, Meituan, dan ByteDance tidak memberikan tanggapan saat dimintai konfirmasi. Sumber internal menyebut sebagian besar anggaran dialokasikan untuk ekspansi operasional di luar China.
>>> PN Jakarta Pusat Bacakan Penetapan Eksekusi Pengosongan Hotel Sultan
Setiap perusahaan China yang menjadi pelanggan juga melatih model AI milik mereka sendiri. ByteDance mengoperasikan chatbot AI Doubao yang dikelola tim Microsoft berbasis di Asia.
Perwakilan Ant Group menyatakan pengembangan model AI dilakukan secara mandiri dan produk inti tidak bergantung pada model eksternal.
Sistem Keamanan Informasi dan Batasan Teknis
OpenAI sempat menyampaikan keluhan internal kepada Microsoft terkait kurangnya pencegahan praktik peniruan model oleh perusahaan China, yang dikenal sebagai distilasi.
Praktik ini dapat digunakan untuk melatih model lokal memakai data sintetis.
Microsoft menerapkan sistem pemantauan otomatis untuk mendeteksi penggunaan model dalam pembuatan produk kompetitor. Penjualan model AI di China juga dibatasi hanya untuk korporasi mapan, bukan pengembang individu.
Konsumen di China tidak mendapatkan perlakuan pemantauan lebih ketat. Upaya pencegahan total terhadap penggunaan data sintetis untuk pelatihan model mandiri dinilai tetap sulit dilakukan.
Microsoft wajib bermitra dengan penyedia layanan lokal dan mengoperasikan pusat data di sekitar Beijing dan Shanghai untuk berbisnis di China.
Namun, model AI tidak ditempatkan di pusat data domestik demi menghindari risiko pencurian kekayaan intelektual.
>>> Swiss Bidik Kemenangan Perdana Lawan Bosnia di Piala Dunia 2026
Pelanggan di China harus mengakses model AI melalui jaringan internet yang terhubung ke fasilitas komputasi di negara lain, seperti pusat data di Singapura.
