⌂ Beranda News Paus Leo XIV Rilis Ensiklik Pertama tentang Risiko Kecerdasan Buatan

Paus Leo XIV Rilis Ensiklik Pertama tentang Risiko Kecerdasan Buatan

Paus Leo XIV Rilis Ensiklik Pertama tentang Risiko Kecerdasan Buatan
Paus Leo XIV meluncurkan ensiklik Magnifica Humanitas tentang AI
A A Ukuran Teks16px

Paus Leo XIV meluncurkan surat terbuka atau ensiklik pertamanya yang bertajuk "Magnifica humanitas" di Kota Vatikan pada Senin, 25 Mei 2026.

Dokumen setebal 42.300 kata ini memperingatkan risiko kecerdasan buatan (AI) terhadap dominasi kendali sekelompok pihak, perpindahan tenaga kerja, serta eskalasi konflik dunia.

>>> Santos FC Lolos ke Playoff Copa Sudamericana Usai Bantai Deportivo Cuenca 3-0

Ensiklik tersebut mendesak para eksekutif perusahaan, regulator pemerintah, dan masyarakat dunia untuk melindungi kemanusiaan dari bahaya AI. Dokumen ini juga mendorong dialog antara pemimpin spiritual dan dunia teknologi.

Dalam peluncuran tersebut, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, Christopher Olah, turut diundang untuk berbicara. Kehadirannya menjadi simbol keterbukaan dialog yang diharapkan oleh Vatikan.

Respons dari Komunitas Teknologi

Jeremy Nixon, pendiri hacker house A. G.

I.

House di San Francisco, menilai ada ketidakselarasan antara pandangan humanis Paus dengan mimpi para teknolog di Silicon Valley.

"They are not in dialogue," katanya kepada The New York Times.

Nixon yang berusia 33 tahun menambahkan bahwa perbedaan perspektif mengenai risiko dan potensi masa depan AI merupakan hal mendasar bagi komunitasnya.

"It is the reason the community exists," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa esensi mendasar keberadaan komunitas teknologi tersebut memang berakar dari diskusi seputar penciptaan kecerdasan buatan umum.

"It is its underlying purpose," kata Nixon.

Sementara itu, Christopher Olah dari Anthropic menyampaikan pidato yang menyoroti konflik insentif komersial, geopolitik, serta ambisi pribadi di dalam setiap laboratorium AI garis depan.

"Every frontier AI lab—including Anthropic—operates inside a set of incentives and constraints that can sometimes conflict with doing the right thing," cetusnya.

Olah menambahkan bahwa tekanan untuk tetap layak secara komersial dan berada di batas depan riset akan selalu memengaruhi niat baik para ilmuwan.

"The pressure to stay commercially viable and to stay at the research frontier," jelasnya.

Menurutnya, tekanan lain juga datang dari persaingan geopolitik antarnegara. "Geopolitical pressure," sebut Olah.

Selain itu, terdapat dorongan ego yang sudah lama ada dalam sifat dasar manusia. "And the older, plainer pressures of pride and ambition," ungkapnya.

Olah menegaskan bahwa terlepas dari ketulusan para perumus teknologi, pengaruh dari berbagai insentif tersebut tidak akan bisa dihindari tanpa adanya pemantau independen di luar industri.

"No matter how sincerely any of us intend to do the right thing—and I believe many of us do—we will always be influenced by those incentives," tegasnya.

Oleh sebab itu, kehadiran kritik yang cermat dan berani dari luar lingkaran industri dinilai sangat krusial bagi keselamatan umat manusia.

"That is why, if we want this technology to go well, it is enormously important that there be people outside those incentives—people who care about things going well and insist on safety, who are paying close attention, who are willing to say hard things, who are willing to be our earnest, thoughtful, critics," jabar Olah.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru