Olah menyatakan bahwa pencapaian besar manusia hanya akan terwujud melalui proses tarik-ulur dan upaya kolaboratif yang inklusif.
"It is through dialogue and mutual effort, through the push and pull, that humanity will achieve great things," ucapnya.
Melalui ensiklik Magnifica Humanitas, Anthropic mengapresiasi langkah Gereja Katolik yang bersedia mengambil peran dalam proses pencermatan mendalam ini.
"That is what I see in Magnifica Humanitas, and it is why I am grateful to His Holiness and to the Church for taking up this work of discernment," aku Olah.
Ia memandang bahwa umat manusia memiliki landasan bersama yang kuat dalam hal martabat dan hati nurani.
>>> Cleveland Guardians Promosikan Pitcher Kidal Will Dion ke MLB
"We dwell so often on what divides us, but humanity, full of dignity and conscience, has so much common ground," nilainya.
Berdasarkan diskusi dengan para pemimpin lintas tradisi budaya dan iman, ditemukan satu keyakinan serupa demi masa depan generasi mendatang.
"In conversations we at Anthropic have had with leaders across faith and cultural traditions, we found one shared and deeply held conviction: if this technology is coming, it must go well—for our common home, and for the children to come," papar Olah.
Olah juga menepis pandangan bahwa penanganan AI sepenuhnya harus diserahkan kepada ilmuwan komputer karena cakupan implikasinya yang sangat luas.
"Some might believe that matters of AI are best handled by computer scientists like myself," tuturnya.
Ia menganggap asumsi tersebut keliru lantaran pertanyaan yang ditimbulkan oleh AI jauh lebih besar dari sekadar komunitas riset teknologi.
"They are mistaken: the questions raised by AI are bigger than the AI research community, not just in their implications, but also in their nature," ulasnya.
Menurutnya, model AI tidak dirancang secara baku layaknya sebuah jembatan atau pesawat terbang yang fisika dan seluruh komponennya telah dipahami secara pasti.
"AI systems are not engineered the way a bridge or an airplane is engineered," ulas Olah.
Ia menguraikan bahwa model AI justru tumbuh berdasarkan struktur yang meniru otak dari akumulasi pemikiran dan ucapan manusia.
"We understand an airplane because we designed every part of it and we understand the physics that act on it," urai Olah.
Hasil dari pertumbuhan teknologi tersebut dinilai jauh lebih halus, ganjil, dan indah dari sekadar cerita fiksi ilmiah. "AI models are not like that," banding Olah.
Sistem ini tidak bekerja layaknya robot penghitung yang dingin seperti yang selama ini dibayangkan.
"They are grown, on a structure roughly modeled after the brain, on an enormous inheritance of human thought and speech," bebernya.