⌂ Beranda News Ketegangan Selat Hormuz Menahan Laju Penguatan Pasar Kripto

Ketegangan Selat Hormuz Menahan Laju Penguatan Pasar Kripto

Ketegangan Selat Hormuz Menahan Laju Penguatan Pasar Kripto
Selat Hormuz dengan kapal tanker minyak
A A Ukuran Teks16px

Rencana gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini menghadapi ujian berat. Konflik terbaru ini memicu ketidakpastian baru bagi pelaku pasar aset kripto global.

Militer AS baru-baru ini meluncurkan serangan defensif di wilayah Iran selatan. Serangan itu menargetkan situs peluncuran rudal dan kapal yang tengah memasang ranjau laut.

>>> Getaran Sound Horeg Hancurkan Satu Rumah Warga di Jepara

AS mengklaim tetap menahan diri selama masa gencatan senjata. Namun, pembaruan situasi militer ini langsung mengubah kalkulasi pelaku pasar makro.

Dampak pada Pasar dan Bitcoin

Harga minyak mentah jenis Brent kembali menguat.

Pasar saham bergerak bervariasi, sementara Bitcoin (BTC) terpaku di kisaran pertengahan US$ 76.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar.

Secara teoretis, perpanjangan gencatan senjata berdampak positif bagi aset berisiko seperti kripto. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kecemasan inflasi dan menekan permintaan dolar AS.

Namun, serangan baru di Selat Hormuz membuat risiko konflik beralih dari status teoretis menjadi ancaman aktif.

Pasar dihadapkan pada situasi pelik saat jalur diplomasi masih terbuka, tetapi konflik bersenjata belum berakhir.

Menurut laporan The Guardian, AS dan Iran masih berselisih mengenai poin-poin krusial, termasuk blokade Selat Hormuz.

Juru bicara pemerintah Iran menegaskan kesepakatan final belum akan terjadi dalam waktu dekat.

>>> Thunder Kalahkan Spurs 127-114, Unggul 3-2 di Final Wilayah

Proses pemulihan arus lalu lintas minyak mentah hingga kembali normal akan memakan waktu berbulan-bulan. Dinamika ini membuat pergerakan Bitcoin sangat sensitif terhadap risiko berita utama.

Pada awal Mei, Bitcoin sempat melesat menuju US$ 82.000 saat minyak mentah WTI turun 6% akibat harapan damai.

Namun pada 18 Mei, Bitcoin jatuh ke US$ 76.500 setelah Donald Trump memperingatkan Iran.

Peringatan itu sempat mendorong minyak Brent melesat di atas US$ 112 per barel. Kini, harga Brent kembali menjadi perhatian pasar.

Bagi pedagang harian, penurunan harga Brent ke bawah US$ 100 per barel sudah cukup memicu sentimen positif.

Namun, Bank Sentral AS (The Fed) menilai guncangan energi dengan cara berbeda.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz.

>>> Ledakan Tangki Kimia di Washington Tewaskan Teknisi Listrik

Volume itu setara dengan 20% konsumsi minyak dunia dan 25% perdagangan minyak jalur laut global.

Saat ini, volume lalu lintas kapal tanker di selat tersebut merosot tajam. Asimetri ini menjadi beban makro utama bagi Bitcoin.

Pasar dapat merespons penurunan harga minyak dalam hitungan jam.

Namun, The Fed membutuhkan stabilitas jangka panjang yang nyata, termasuk normalisasi arus tanker, sebelum yakin disrupsi energi telah berakhir.

Selat Hormuz merupakan urat nadi geopolitik dan ekonomi paling krusial di dunia.

Konflik berkepanjangan di wilayah ini selalu memicu efek domino terhadap inflasi global melalui lonjakan biaya energi dan logistik.

Bitcoin telah bergeser peran dari aset lindung nilai independen menjadi bergerak searah dengan aset berisiko makro. Hal ini akibat masifnya arus modal institusional pasca-persetujuan ETF Bitcoin Spot.

Selama The Fed mempertahankan sikap hati-hati terhadap suku bunga tinggi, likuiditas pasar keuangan akan tetap ketat.

>>> Prabowo Subianto Sumbang 1.098 Ekor Sapi Kurban Senilai Rp 100 Miliar

Ketidakpastian di Selat Hormuz dalam 60 hari ke depan diproyeksikan menjadi langit-langit makro yang membatasi ruang gerak Bitcoin untuk mencetak rekor tertinggi baru.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru