Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve yang baru pada hari ini. Pelantikan ini menandai perubahan kepemimpinan di bank sentral AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, Jerome Powell, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Fed, memilih untuk tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur.
>>> Enlight Renewable Energy Targetkan Pendapatan Tahunan Lebih dari $2,1 Miliar pada 2028
Langkah ini memutus tradisi modern di mana ketua Fed yang keluar biasanya meninggalkan dewan sepenuhnya.
Potensi Konflik Kebijakan
Keputusan Powell untuk bertahan menimbulkan kekhawatiran akan munculnya 'bayangan ketua' yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter.
Dengan dukungan dari tiga gubernur yang diangkat oleh Biden—Philip Jefferson, Michael Barr, dan Lisa Cook—Powell dapat membentuk mayoritas suara di Dewan yang terdiri dari tujuh anggota.
Jika Christopher Waller, yang ditunjuk oleh Trump, ikut serta, Powell bisa memiliki kendali penuh atas arah kebijakan.
Hal ini berpotensi memicu konflik antara Warsh sebagai ketua resmi dan Powell sebagai kekuatan di balik layar.
Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga
Para pengamat khawatir bahwa Powell dan sekutunya akan mendorong kenaikan suku bunga meskipun ekonomi sedang menghadapi guncangan harga minyak.
>>> Peterson Law Office dan Whiteford Taylor Preston Jalin Kemitraan Strategis
Kenaikan suku bunga di tengah kenaikan harga energi dinilai dapat memperburuk kondisi ekonomi.
Alan Greenspan dan Ben Bernanke, mantan ketua Fed sebelumnya, memahami bahwa guncangan minyak berbeda dengan inflasi permintaan.
Pada tahun 1990 dan 2008, mereka justru memangkas suku bunga saat ekonomi melemah akibat kenaikan harga minyak.
Kenaikan suku bunga saat ini akan menekan sektor perumahan, manufaktur, dan usaha kecil. Selain itu, penguatan dolar AS dapat merugikan eksportir.
Obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun sudah berada di atas 5% dan tenor 10 tahun di atas 4,5%, menunjukkan bahwa pasar obligasi sudah melakukan pengetatan.
Dalam situasi ini, Fed tidak perlu membuktikan ketegasannya dengan menaikkan suku bunga lagi.
Data inflasi terbaru juga tidak mendukung kebijakan agresif.
>>> Solaris Energy Infrastructure Raih Pendanaan Hampir Dua Miliar Dolar AS
Indeks Harga Produsen inti (Core PPI) tercatat 4,4%, sementara Indeks Harga Konsumen inti (Core CPI) sebesar 2,8%.
Angka-angka ini tidak menunjukkan keadaan darurat di sisi permintaan.
Yang perlu diwaspadai adalah apakah kenaikan harga minyak akan merembet ke komponen inti dan menciptakan dinamika upah-harga putaran kedua.
Namun, masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.
Tugas Fed seharusnya tetap menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali sambil mempertahankan lapangan kerja maksimal. Dengan imbal hasil obligasi jangka panjang yang naik, risiko bergeser ke arah resesi.
Jika Powell dan sekutunya memaksakan kenaikan suku bunga di tengah guncangan minyak, mereka tidak akan membela kredibilitas Fed, melainkan menambah guncangan kredit pada guncangan energi.
>>> Jefferies Beri Rating Hold untuk Riot Platforms, Target Harga $24
Dampaknya akan dirasakan oleh pabrik, rumah tangga, usaha kecil, dan pasar ekspor di seluruh Amerika.
