Tesla (TSLA) kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru menunjukkan perusahaan meningkatkan perekrutan 'mendesak' untuk pekerjaan terkait Full Self-Driving (FSD) di China.
Langkah ini menegaskan komitmen Tesla pada otonomi, meskipun pasar kendaraan listrik (EV) masih bergejolak dan persaingan ketat.
>>> NuScale dan BWX Technologies: Dua Jalur Berbeda Menuju Keuntungan Energi Nuklir
China merupakan pasar mobil terbesar di dunia, namun Tesla kehilangan pangsa pasar dari pemain lokal. Dengan perekrutan ini, Tesla berusaha mengejar ketertinggalan dalam fitur pengemudian cerdas.
Rekrutmen FSD di China
Tesla memasang lowongan kerja 'mendesak' untuk pengujian FSD, pekerjaan data, dan peran bantuan pengemudi di kota-kota besar China.
Hal ini menunjukkan Tesla tidak melambat dalam otonomi dan berusaha membangun bisnis FSD global.
>>> Bank of America Pertahankan Rating Underperform untuk Target
Namun, tantangan tetap ada. Regulasi masih menjadi hambatan, dan Tesla perlu eksekusi yang baik untuk mengubah perekrutan ini menjadi kemajuan nyata.
Saham Tesla naik sekitar 25% dalam setahun terakhir, didorong oleh kegembiraan investor seputar otonomi dan AI. Saham sempat terpuruk awal 2026, lalu bangkit dari posisi terendah April.
>>> Harga Minyak Berfluktuasi di Tengah Negosiasi Damai Iran
Saham masih diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan 200 hari, menunjukkan tren jangka panjang tetap utuh.
Namun, valuasi masih tinggi dengan rasio P/E sekitar 346,7 kali, jauh di atas median sektor sekitar 15 kali.
Rasio harga terhadap buku sekitar 18,4 kali, dibandingkan median sektor mendekati 2 kali. Para bullish mengatakan Tesla pantas mendapat premi karena opsi pertumbuhan dan arus kas.
>>> Federal Reserve Usulkan Rekening Pembayaran Khusus untuk Lembaga Keuangan
Sementara bearish berpendapat saham TSLA sudah memperhitungkan banyak kesuksesan yang belum terwujud.
