Permintaan tinggi terhadap obligasi yuan luar negeri China memperburuk krisis likuiditas akhir kuartal di Hong Kong pada Selasa (16/6/2026).
Lonjakan musiman permintaan uang tunai mendorong biaya pendanaan ke level tertinggi dalam dua bulan.
>>> Kepala BGN Tunjuk Agustina Arumsari sebagai Juru Bicara
Kementerian Keuangan China menjual obligasi pemerintah senilai 15 miliar yuan (2,2 miliar dolar AS) di pusat keuangan tersebut.
Penjualan ini mencakup utang dua tahun senilai 4,5 miliar yuan dengan tingkat kupon terendah sepanjang sejarah, yaitu 1,29 persen.
Penawaran multi-tranche yang juga mencakup jatuh tempo hingga sepuluh tahun mengalami kelebihan permintaan hingga 3,86 kali lipat.
Bertepatan dengan penjualan itu, biaya pinjaman yuan luar negeri meningkat di seluruh kurva, dengan suku bunga satu bulan utama naik ke level tertinggi dalam dua bulan.
>>> Krakatau Steel Group Bentuk Banten Migrant Center untuk Perkuat Pekerja Migran
Kondisi pendanaan di sistem keuangan Hong Kong mulai mengencang karena bank menghadapi peningkatan permintaan untuk memenuhi persyaratan peraturan.
Rencana China menerbitkan lebih banyak obligasi serupa di Hong Kong akan menjadi pendorong penting bagi kondisi likuiditas ke depan.
Dampak Penerbitan Obligasi
Australia & New Zealand Banking Group mengonfirmasi kelangkaan produk ini dan menyoroti dampak penyerapan likuiditas pasar luar negeri akibat penerbitan instrumen utang tersebut.
"Obligasi pemerintah Tiongkok (CGB) luar negeri jarang ditemukan. Permintaannya akan selalu kuat," kata Xing Zhaopeng, ahli strategi senior di Australia & New Zealand Banking Group.
Ia menambahkan bahwa peningkatan volume penerbitan secara langsung akan menyedot ketersediaan dana di pasar.
>>> INDEF: Efisiensi Jadi Tantangan Utama Penyusunan RAPBN 2027
China diperkirakan terus meningkatkan penjualan utang negara berdenominasi yuan di Hong Kong untuk mempromosikan penggunaan mata uangnya secara global.
Langkah ini didorong oleh melemahnya kepercayaan investor terhadap aset dolar.
Selain apresiasi mata uang, obligasi China didukung ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut oleh otoritas untuk memperkuat pemulihan ekonomi yang masih belum merata.
Kenaikan biaya pinjaman di Hong Kong juga dipengaruhi oleh penerbitan utang negara China dan peningkatan penjualan obligasi yuan luar negeri oleh korporasi.
>>> Pelemahan Rupiah Ancam Kelangsungan Industri Farmasi dan Apotek Kecil
Samuel Tse, ekonom senior di DBS Bank, mengatakan bahwa peminjam mungkin akan melanjutkan penerbitan setelah ketegangan di Timur Tengah mereda.