Saham Tesla mengalami tren penurunan sebesar 7% tahun ini, meskipun indeks S&P 500 naik 8%.
Penurunan ini terjadi di bawah bayang-bayang rencana IPO besar SpaceX yang kabarnya akan melantai dengan valuasi hingga $2 triliun dan mengumpulkan dana $80 miliar.
>>> Penabung Hadapi Peluang Terakhir saat Keputusan Fed Dampaki Rekening Pasar Uang
Kinerja Keuangan dan Fokus pada AI
SpaceX mencatat kerugian kuartal pertama sebesar $4,3 miliar dari pendapatan $4,69 miliar, terutama didorong oleh ambisi AI Elon Musk yang menyebabkan kerugian $2,5 miliar.
Musk, yang menguasai 85% hak suara SpaceX, menyatakan bahwa masa depan Tesla juga sangat bergantung pada AI dan produk terkait seperti Robotaxi dan robot Optimus.
Ia memprediksi akan ada 10 miliar robot humanoid dengan harga antara $20.000 hingga $25.000 di seluruh dunia pada tahun 2040, yang berpotensi menjadi sumber pendapatan besar bagi Tesla.
>>> Alpha Wealth Insiders Fund Soroti Kinerja CME Group Inc
Namun, Wall Street masih sangat fokus pada bisnis inti kendaraan listrik Tesla yang menghadapi perlambatan di pasar internasional utama.
Penjualan unit global Tesla tahun lalu stagnan di angka 1,6 juta kendaraan, sementara pangsa pasarnya menurun di berbagai kawasan.
>>> Chatham Lodging Trust Naikkan Dividen 11% dan Akuisisi Enam Hotel Hilton
Di Uni Eropa, penjualan EV Tesla turun dua digit tahun lalu, dan di Amerika Serikat penjualan relatif datar.
Persaingan ketat dihadapi Tesla di China dari puluhan produsen yang menawarkan model lebih murah dengan fitur yang dinilai lebih unggul oleh para ahli otomotif.
Meskipun demikian, divisi otomotif Tesla menunjukkan pemulihan pada kuartal pertama dengan pendapatan naik 16% year-on-year menjadi $16,2 miliar.
>>> A $2.1 Million Portfolio Enables Early Retirement for High Earning Executives
Analis pasar mencatat bahwa kebangkitan signifikan saham Tesla membutuhkan ekspansi cepat bisnis mobilnya serta tanda-tanda jelas kelayakan lini Robotaxi dan Optimus.