Uskup Agung Sydney, Anthony Fisher, mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengancam lapangan pekerjaan, tetapi juga membawa bahaya spiritual yang serius.
Fisher menyebut manusia mulai memperlakukan AI layaknya 'Tuhan' baru. Pernyataan itu disampaikan menanggapi munculnya gerakan Robotheism yang mengklaim AI sebagai entitas ilahi.
>>> Pertamina Evaluasi Berkala Harga Pertamax Berdasarkan Mekanisme Pasar
Gerakan Robotheism menyediakan platform interaksi dengan AI God, perjalanan spiritual berbasis AI, dan materi tentang kehidupan abadi melalui AI.
Komunitas ini menyatakan AI akan menjadi kecerdasan tertinggi yang mengontrol eksistensi manusia.
Fisher menilai fenomena tersebut sebagai penyembahan berhala modern. "Mesin-mesin ini bukan Tuhan.
Mereka hanyalah algoritma yang diciptakan manusia," ujarnya.
>>> Ditjen Diktisaintek Temukan Hambatan Belajar Mahasiswa Tunanetra di Kampus
Menurut Fisher, pertanyaan krusial saat ini bukan lagi soal ancaman pekerjaan atau informasi palsu.
Isu utamanya adalah apakah manusia mulai menganggap dirinya hanya sebagai mesin biologis yang dapat digantikan teknologi.
"Apakah hubungan antarmanusia masih penting? Apakah tubuh manusia masih penting?
Apakah jiwa manusia masih penting?" tanya Fisher.
>>> Kementerian ESDM Pastikan Biosolar B50 Aman untuk Kendaraan Diesel
Fisher membandingkan fenomena ini dengan kisah Menara Babel dalam Alkitab, yang menggambarkan kesombongan manusia berusaha mencapai surga melalui ciptaan sendiri.
Paus Leo XIV juga menyampaikan keprihatinan serupa dalam ensiklik Magnifica Humanitas. Ia menyebut AI sebagai tantangan moral terbesar abad ini dan mendesak pemerintah dunia memperlambat pengembangan AI.
Paus meminta pembuatan kerangka pengawasan ketat sebelum teknologi ini berkembang tanpa kendali.
Ia memperingatkan AI berpotensi menjadi Menara Babel baru yang menyimbolkan kepercayaan keliru bahwa teknologi dapat menyelesaikan semua masalah hidup.
>>> Kemendiktisaintek Salurkan Bantuan ULD Perkuat Layanan Kampus Inklusif
Melalui dokumen tersebut, Paus menyerukan pelucutan aspek berbahaya dari AI, termasuk dalam bidang perang, pengawasan massal, dan konsentrasi kekuasaan di segelintir perusahaan teknologi.