Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Diktisaintek) menemukan sejumlah hambatan nyata yang dihadapi mahasiswa tunanetra di perguruan tinggi.
Temuan ini berdasarkan riset terhadap 52 mahasiswa tunanetra di berbagai universitas di Indonesia.
>>> Peningkatan Kualitas Guru Kunci Pengenalan AI Sejak Usia Dini
Penelitian melibatkan mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pamulang, UIN, serta universitas di Padang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Manado.
Salah satu kendala utama adalah format bahan ajar yang tidak ramah terhadap teknologi pembaca layar (screen reader).
Anggota Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Ditjen Diktisaintek, Asep Supena, menjelaskan bahwa banyak dosen memberikan materi dalam bentuk digital.
Namun, file tersebut sering berasal dari hasil pemindaian sehingga tidak dapat dibaca oleh screen reader.
Metode pengajaran yang diterapkan dosen juga dinilai sangat visual-sentris. Banyak pengajar mengandalkan presentasi PowerPoint tanpa memberikan penjelasan verbal yang cukup bagi mahasiswa tunanetra.
>>> Tips Lolos Final Test Beasiswa OSC 2026 dari Medcom
Informasi penting, termasuk tugas kuliah, kerap hanya ditampilkan di slide. Padahal mahasiswa tunanetra tidak dapat mengakses informasi tersebut secara langsung.
Asep juga menyoroti kebiasaan dosen saat berinteraksi di kelas, seperti menunjuk mahasiswa menggunakan kata ganti tanpa menyebut nama.
Pola komunikasi ini membingungkan mahasiswa tunanetra karena mereka tidak bisa mengetahui arah pembicaraan.
Dosen sebaiknya langsung menyebut nama mahasiswa agar instruksi lebih jelas dan mudah dipahami.
Kendala lain adalah keterbatasan perangkat penunjang teknologi yang dimiliki mahasiswa. Tidak semua mahasiswa tunanetra mempunyai laptop yang dilengkapi aplikasi pembaca layar.
>>> Ditjen Pajak Catat Penerimaan Neto Rp940,31 Triliun hingga Juni 2026
Fasilitas umum kampus seperti perpustakaan juga belum mendukung karena masih didominasi koleksi buku cetak konvensional. Keterbatasan ini menghalangi ruang gerak mahasiswa tunanetra untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara mandiri.
Tantangan tidak berhenti pada fasilitas fisik, tetapi juga merembet ke aspek sosial. Sejumlah mahasiswa tunanetra mengaku merasa terpinggirkan saat berinteraksi sehari-hari maupun ketika menyelesaikan tugas kelompok.
Mereka jarang diberikan kesempatan berpartisipasi aktif karena anggapan keliru mengenai kemampuan kontribusi mereka. Situasi ini menjadi lebih berat bagi mahasiswa penyandang disabilitas yang memiliki kepribadian introver.
Peran Unit Layanan Disabilitas
Keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di perguruan tinggi dituntut untuk tidak sekadar menjadi pemenuh kewajiban administratif. ULD harus bergerak aktif meningkatkan kualitas pelayanan yang konkret.
Ke depan, fokusnya bukan lagi sekadar mendirikan ULD, tetapi memastikan layanan yang diberikan benar-benar meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan belajar mahasiswa disabilitas.
>>> AS-Iran Damai, Pasokan Bahan Baku Plastik RI Dipastikan Aman
Melalui riset ini, Ditjen Diktisaintek berharap kajian serupa dapat diperluas ke kelompok disabilitas lainnya, seperti mahasiswa dengan hambatan pendengaran.