Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memberikan bantuan pendanaan bagi perguruan tinggi untuk memperkuat Unit Layanan Disabilitas (ULD).
Bantuan ini bertujuan mendukung ribuan mahasiswa berkebutuhan khusus di Indonesia.
>>> Peningkatan Kualitas Guru Kunci Pengenalan AI Sejak Usia Dini
Data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi per Juni 2025 mencatat terdapat 3.128 mahasiswa disabilitas di 282 kampus.
"Jumlah mahasiswa disabilitas ini tersebar di 282 perguruan tinggi," kata Beny Bandanadjaja, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktisaintek Kemendiktisaintek dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.
Kelompok mahasiswa tunanetra menjadi segmen terbesar dengan total 1.727 orang. Pemerintah mengalokasikan stimulus Rp30 juta untuk kampus yang baru mendirikan ULD.
Sementara itu, penguatan ULD yang telah beroperasi menerima alokasi Rp40 juta.
"Fokus utama bantuan ini adalah memastikan seluruh aktivitas tridarma perguruan tinggi dapat diakses secara mandiri oleh mahasiswa disabilitas," ujar Beny Bandanadjaja.
>>> Tips Lolos Final Test Beasiswa OSC 2026 dari Medcom
Portal Pendidikan Tinggi Inklusif Diluncurkan
Pemerintah juga meluncurkan portal pendidikan tinggi inklusif. Portal ini menyediakan basis data statistik, regulasi, panduan operasional, hingga direktori kampus ramah disabilitas.
Upaya ini diharapkan mendorong perluasan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.
Meski demikian, tantangan pemenuhan hak belajar masih membayangi mahasiswa disabilitas. Ketersediaan bahan ajar yang belum ramah bagi tunanetra menjadi kendala utama.
Format materi ajar digital sering kali berupa hasil pemindaian visual yang tidak kompatibel dengan perangkat lunak pembaca layar.
>>> Ditjen Pajak Catat Penerimaan Neto Rp940,31 Triliun hingga Juni 2026
"Banyak dosen yang sudah merasa membantu karena memberikan materi dalam bentuk digital.
Namun, sering kali file tersebut berasal dari hasil pemindaian (scan) sehingga tidak dapat dibaca oleh screen reader," kata Asep Supena, Anggota Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Ditjen Diktisaintek.
Metode pengajaran yang terlalu berorientasi visual tanpa pemaparan lisan yang memadai memperparah hambatan belajar. Penugasan kuliah kerap luput dari akses mahasiswa tunanetra karena hanya ditayangkan lewat salindia presentasi.
"Informasi penting, termasuk tugas kuliah, kerap hanya ditampilkan di slide. Padahal mahasiswa tunanetra tidak dapat mengakses informasi tersebut secara langsung," ujar Asep Supena.
Keterbatasan sarana teknologi, minimnya kepemilikan laptop dengan fitur pembaca layar, serta dominasi buku cetak di perpustakaan memperpanjang daftar kendala.
>>> AS-Iran Damai, Pasokan Bahan Baku Plastik RI Dipastikan Aman
Situasi ini berdampak pada kesenjangan perolehan sumber belajar bagi mahasiswa disabilitas. "Kondisi ini membuat mereka kesulitan memperoleh sumber belajar yang setara dengan mahasiswa lainnya," tutur Asep Supena.