⌂ Beranda News Penutupan Selat Hormuz Paksa Perusahaan Alihkan Rute Pasokan ke Jalur Darat

Penutupan Selat Hormuz Paksa Perusahaan Alihkan Rute Pasokan ke Jalur Darat

Penutupan Selat Hormuz Paksa Perusahaan Alihkan Rute Pasokan ke Jalur Darat
Militer AS menangkis serangan rudal Iran di Teluk Persia
A A Ukuran Teks16px

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik telah memaksa berbagai negara dan perusahaan global mengalihkan rantai pasokan mereka ke jalur darat di sepanjang Semenanjung Arab.

Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan komoditas penting pada Juni 2026.

>>> Badan Gizi Nasional Evaluasi Penerima Makan Bergizi Gratis, Fokus pada Siswa SMA Elit

Perusahaan raksasa seperti Siemens Energy AG telah memetakan rute alternatif sejauh hampir 2.000 kilometer melintasi gurun.

Rute tersebut menghubungkan pelabuhan Jeddah di Laut Merah menuju pusat industri Dammam di Arab Saudi.

Kepala unit layanan gas Siemens Energy, Karim Amin menjelaskan dampak penerapan rute alternatif tersebut terhadap efisiensi operasional.

"Ini menambah waktu, menambah sedikit biaya juga, tetapi tidak menghentikan bisnis," ujarnya.

Gangguan logistik ini juga mendorong jaringan toko bahan makanan Spinneys dan operator pelabuhan peti kemas DP World Ltd. untuk memanfaatkan jaringan jalan raya.

Jalan tersebut menghubungkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Oman, bahkan hingga Turki dan Irak.

Pengalihan ini dilakukan setelah lalu lintas menuju Pelabuhan Jebel Ali di Dubai sempat terputus.

Kepala analis platform pengiriman barang digital Xeneta, Peter Sand memberikan pandangannya mengenai efektivitas jalur darat alternatif.

"Rute alternatif seperti jembatan darat dan pelabuhan yang lebih kecil mungkin lebih rumit, tetapi cara ini berhasil," kata Peter Sand.

Sand juga mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik membuat pengirim barang tetap berhati-hati.

"Bahkan kalau Selat Hormuz dibuka kembali, pengirim barang akan berhati-hati untuk kembali terlalu bergantung pada pelabuhan seperti Jebel Ali," jelasnya.

Situasi geopolitik yang rapuh bisa membuat penurunan mendadak dan mengembalikan mereka ke titik awal.

>>> Samsung Indonesia Resmi Luncurkan TV Mini LED dengan Teknologi AI Premium

Kondisi ini dimanfaatkan oleh perusahaan pengelola pelabuhan seperti Gulftainer yang mengoperasikan Pelabuhan Khor Fakkan di UEA bagian timur.

Mereka mempercepat integrasi infrastruktur logistik.

"Gangguan-gangguan ini membuat kami bergerak lebih cepat," kata Farid Belbouab, CEO Gulftainer.

Perusahaan kini menyeimbangkan kembali ekosistem perdagangan dengan menghubungkan beberapa pelabuhan kering dan meningkatkan kapasitas operasional gerbang truk.

"Dalam jangka panjang, pantai timur bukanlah cadangan—melainkan inti dari arsitektur perdagangan UEA," ujar Belbouab.

Gulftainer telah memperluas jam operasional untuk melayani sekitar 7.000 truk setiap hari, dari sebelumnya hanya 100 truk sebelum perang pecah.

"Kami tidak hanya beradaptasi. Kami menyeimbangkan kembali ekosistem untuk ketahanan, bukan hanya pelabuhan," tegasnya.

Di sisi lain, lonjakan distribusi kargo ke pelabuhan-pelabuhan kecil menyebabkan ruang kontainer dan fasilitas gudang berikat menjadi sangat terbatas.

"Gudang-gudang itu terisi sangat, sangat cepat," kata Amadou Diallo, CEO Aramex, perusahaan logistik dan pengiriman berbasis di Dubai.

Arab Saudi sendiri agresif memanfaatkan situasi ini untuk bersaing dengan UEA melalui proyek Saudi Landbridge sepanjang hampir 600 mil.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru