Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyarankan pemerintah tetap bersikap selektif dalam menyetujui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk komoditas batu bara.
Langkah ini penting untuk mencegah potensi oversupply atau kelebihan pasokan global akibat produksi yang terlalu tinggi dari Indonesia.
>>> Andrew Robertson Jadi Trending Topic di Google Indonesia
Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono mengatakan, harga batu bara berpotensi kembali melandai jika pasokannya terlalu melimpah.
“Jangan sampai juga keran peningkatan produksi dilakukan secara jorjoran yang hasilnya malah akan menciptakan suplai yang berlebih yang dikhawatirkan akan membuat harga batu bara jatuh kembali,” kata Sudirman ketika dihubungi Minggu (14/6/2026).
Dia menilai persetujuan revisi RKAB batu bara dapat diberikan kepada perusahaan yang patuh dan taat aturan, seperti taat membayar pajak hingga menerapkan praktik pertambangan yang baik (good mining practice/GMP).
Pengaruh Kebijakan Ekspor
Sudirman meyakini peningkatan produksi pada semester II-2026 belum akan terpengaruh oleh kebijakan ekspor batu bara wajib melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026, penambang yang mengekspor produknya hanya diwajibkan melaporkan transaksinya ke Danantara.
“Sehingga revisi RKAB untuk peningkatan produksi pada 2026 ini masih belum akan banyak terpengaruh dengan kebijakan ekspor 1 pintu tersebut,” tegasnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadlia sebelumnya mengungkapkan akan merelaksasi kuota produksi batu bara dalam RKAB 2026.
“Kita selalu mengikuti perkembangan dengan kita akan melakukan relaksasi [RKAB] yang terukur. Artinya, kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi.
>>> Haiti Cetak Sejarah Baru lewat Aksi Pemain MLS di Piala Dunia 2026
Kalau harganya mulai mentok kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di gedung DPR, Senin (8/6/2026).
Salah satu alasan relaksasi adalah pergerakan geopolitik akibat ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi fluktuasi harga komoditas global.
“Maka idealnya pemerintah atau pengusaha atau rakyat pun berkepentingan untuk harga yang bagus, produksi kita juga harus banyak.
Supaya pengusahanya untung, negara untung, rakyatnya juga bisa mendapat dampak positif,” ungkap Bahlil.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan revisi RKAB 2026 bakal dimulai Juli 2026.
Porsi kuota produksi yang disetujui akan mempertimbangkan potensi penerimaan negara.
Tri memberikan kisi-kisi, untuk komoditas batu bara hingga 15 Mei 2026 produksinya menurun, tetapi penerimaan negara tergolong stabil di tengah kenaikan harga batu bara.
“Poin yang kita sampaikan kan kita akan menjual mineral dan batu bara sesuai dengan harga yang seharusnya, kira-kira gitu.
>>> Gabriela Nogueira Majukan Persalinan Demi Dukung Karier Matheus Cunha
Jangan juga obral terlalu murah, tetapi jangan juga sampai kebutuhan kita terganggu,” kata Tri kepada awak media di kompleks parlemen.
Tri juga menjelaskan pengajuan revisi RKAB yang dimulai bulan depan bakal ditutup pada 31 Juli 2026. Namun, dia belum dapat mengungkapkan tenggat waktu persetujuan.
Indeks acuan batu bara utama untuk Asia naik ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
Aturan ekspor baru Indonesia menunda pengiriman, memperketat pasokan saat permintaan meningkat karena musim panas.
Harga kontrak berjangka batu bara Newcastle Australia untuk Juni naik menjadi US$148,75/ton pada Jumat, level tertinggi untuk kontrak bulan terdekat sejak Agustus 2024.
Permintaan batu bara diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring cuaca panas di Asia Timur Laut, meningkatkan penggunaan pendingin udara di China.
Kuota produksi batu bara 2026 yang disetujui Kementerian ESDM sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi 2025 sebanyak 817,48 juta ton.
Hingga April 2026, Indonesia telah memproduksi 229 juta ton batu bara atau sekitar 38,2% dari kuota.
>>> Diskon AC Split Sharp 1 PK di Transmart Full Day Sale, Harga Mulai Rp 3,5 Juta
Dari jumlah itu, sekitar 145 juta ton diekspor dan sisanya 84 juta ton untuk memenuhi kewajiban pasok domestik (DMO).