Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Kamis (11/6/2026) siang.
Sebelumnya, aset kripto ini sempat anjlok hingga di bawah level US$60.000 pada akhir pekan lalu.
>>> Perusahaan China Incar Investasi PLTS 100 GW di Indonesia
Berdasarkan data Bloomberg Technoz, Bitcoin diperdagangkan pada rentang US$62.826 atau sekitar Rp1,12 miliar hingga pukul 13.25 WIB.
Pergerakan ini menandakan Bitcoin telah berhasil menjauh dari zona terendah berdasarkan indikator Moving Average (MA) 200.
Posisi harga saat ini dianggap sebagai peluang untuk berbalik arah naik atau rebound. Hal ini karena dinilai telah mencapai titik terendah sekaligus fase akhir dari tren bearish.
Meski demikian, sentimen pasar yang diukur melalui indeks Crypto Fear & Greed masih berada di area ekstrem dengan skor 15.
>>> Kebijakan Ekspor Feronikel Lewat Danantara Sumberdaya Diwaspadai
Dalam 24 jam terakhir, nilai Bitcoin tercatat naik 2 persen.
Namun, performa tersebut belum menunjukkan pemulihan menyeluruh jika dibandingkan dengan pergerakan harga selama sepekan dan sebulan terakhir. Secara year to date (ytd), Bitcoin masih minus 28,3 persen.
Publikasi data inflasi terbaru dari Amerika Serikat tidak memberikan sokongan kuat terhadap penguatan harga Bitcoin. Meski minim sentimen positif, Bitcoin masih mampu bertahan secara bertahap di zona bullish.
Uji Kesabaran Investor dan Risiko Penurunan Lanjutan
Kondisi pasar ini memicu pertanyaan mengenai ketahanan jangka panjang tren bullish. Salah satu pendiri Primal Fund, Griffin Ardern, menyatakan kekhawatiran akan potensi penurunan harga lanjutan.
"Kita masih jauh dari titik terendah yang sesungguhnya," kata Griffin Ardern. Data Checkonchain menunjukkan bahwa fase setelah menyentuh harga terendah biasanya diikuti momentum sideways dalam skala bulanan.
>>> XLSmart Gelar Bravo 500 Summit 2026 untuk Percepat Transformasi Digital
Pergerakan sideways ini diprediksi menjadi ujian kesabaran bagi pemilik Bitcoin. Mereka harus memutuskan antara mempertahankan atau menjual aset.
Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada ketegangan geopolitik AS-Iran di Timur Tengah yang kembali meningkat. Hal ini memicu kenaikan ongkos energi global.
Fokus investor selanjutnya adalah hasil pertemuan FOMC pada 16-17 Juni. Rapat tersebut menjadi momen penting di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Sentral AS yang baru, Kevin Warsh.
Kepala Perdagangan Wirex, Yves Renno, menjelaskan bahwa arah pidato Kevin Warsh akan menjadi faktor penentu pergerakan pasar.
>>> Mike Brown Sebut Tip-In OG Anunoby Tembakan Paling Ikonik dalam Sejarah Knicks
"Apakah Bitcoin akan rebound ke kisaran US$68.000 hingga US$72.000 atau justru bergerak di bawah US$60.000," ujarnya.
