Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka pada Selasa (9/6/2026).
Pertemuan tersebut membahas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
>>> Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni
Anggota DEN Chatib Basri menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai mata uang domestik berpotensi memicu lonjakan harga barang pokok.
Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
"Kami juga menyampaikan bahwa salah satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah.
Karena ini tentu akan berdampak untuk menengah bawah," ujar Chatib Basri.
DEN menyarankan langkah efisiensi anggaran negara untuk menghadapi tekanan ekonomi global dan domestik. Penghematan tersebut dinilai perlu diterapkan pada sejumlah program pemerintah, termasuk makan bergizi gratis (MBG).
"Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran termasuk salah satu diantaranya di dalam kaitan dengan MBG," kata Chatib Basri.
>>> China Berhasil Transplantasi Ginjal dan Hati Babi ke Manusia
Kebijakan efisiensi dipandang sebagai faktor krusial untuk mempertahankan sentimen positif dan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Di sisi lain, anggota DEN lainnya menilai ketahanan ekonomi Indonesia masih dalam posisi aman.
Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap solid di tengah gejolak geopolitik global.
Menurutnya, situasi sekarang masih jauh dari kondisi krisis ekonomi seperti masa lalu.
"Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, even jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998.
>>> AS Serang Iran, Harga Minyak WTI Melonjak Mendekati US$90
Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis," ujar Firman.
Ketahanan perekonomian domestik ditopang oleh angka pertumbuhan ekonomi tahunan yang mencapai 5,61% pada triwulan I 2026.
Tingkat inflasi nasional juga terpantau relatif stabil di angka 3,08% secara tahunan pada Mei 2026.
Meskipun demikian, Firman mengingatkan bahwa pemerintah tetap harus mengantisipasi dampak konflik luar negeri yang berkepanjangan dan penurunan nilai tukar rupiah.
Faktor-faktor tersebut berisiko meningkatkan biaya produksi serta jalur distribusi barang.
"Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya.
>>> Rupiah Menguat ke Rp18.058 per Dolar AS pada Sore Hari
Kemudian di tengah ketidakpastian global ini saya kira confidence harus kita terus perkuat," kata Firman.
