Nilai tukar rupiah menguat sebesar 129 poin atau 0,71 persen ke level Rp18.058 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (9/6) sore.
Apresiasi mata uang Garuda ini dipicu oleh redanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sinyal peluncuran stimulus ekonomi domestik yang baru.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Menjadi 5,50 Persen
Lonjakan performa rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia yang bergerak di zona hijau.
Yuan China naik 0,18 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,24 persen, dolar Singapura menguat 0,14 persen, won Korea Selatan tumbuh 0,37 persen, dan dolar Hongkong terangkat 0,01 persen.
Sementara yen Jepang melemah 0,02 persen.
Kondisi serupa terjadi pada mata uang utama negara maju terhadap dolar AS.
Euro Eropa mengalami kenaikan 0,06 persen, poundsterling Inggris menguat 0,28 persen, dolar Australia terangkat 0,13 persen, dolar Kanada menguat 0,09 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,10 persen.
>>> Permintaan Saham IPO SpaceX Membeludak, Oversubscribed Berkali-kali Lipat
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa meredanya konflik antara Iran dan Israel menjadi motor utama pulihnya sentimen pasar global saat ini.
"Salah satu isu kunci yang ditekan Washington kepada Teheran dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari," ujar Ibrahim Assuaibi kepada CNNIndonesia.
com pada Selasa (9/6).
Di sisi lain, investor global tetap mencermati potensi tingginya inflasi sektor energi yang dapat memengaruhi kebijakan pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat.
"Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi.
Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Mei, yang akan dirilis hari Rabu, yang diperkarakan akan naik 4,2 persen yoy (year-on-year), setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," jelas Ibrahim.
>>> Harga Emas Perhiasan Raja Emas Indonesia Turun 10 Juni 2026
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah mendapat sokongan positif dari rencana pemerintah yang tengah merumuskan paket stimulus baru demi menjaga daya beli masyarakat.
"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal.
Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan," kata Ibrahim.
Langkah penguatan mata uang ini juga didukung oleh kebijakan Bank Indonesia yang telah menaikkan BI-rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen sebagai tindakan pre-emptive guna mengendalikan inflasi tahun 2026 dan 2027.
"Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," pungkas Ibrahim.
>>> Bank Danamon Salurkan Fasilitas Kredit Rp500 Miliar ke Akulaku Finance
Pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan hari Rabu (10/6) diproyeksikan bakal berfluktuasi dan berada pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.